Setidaknya 5.000 orang dilaporkan tewas dalam aksi protes antipemerintah yang melanda Iran. Angka tersebut telah diverifikasi pemerintah, menurut seorang pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters pada Minggu (18/1).
Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan dari total korban tewas, sekitar 500 orang merupakan personel keamanan. Ia menuding “teroris dan perusuh bersenjata” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil Iran.
Menurut pejabat tersebut, bentrokan paling sengit dan jumlah korban tertinggi terjadi di wilayah Kurdi Iran di bagian barat laut negara itu. Wilayah tersebut diketahui menjadi basis kelompok separatis Kurdi dan sebelumnya juga kerap menjadi episentrum kerusuhan.
“Jumlah korban akhir diperkirakan tidak akan meningkat tajam,” ujar pejabat itu.
Ia juga menuding Israel serta kelompok bersenjata di luar negeri telah mendukung dan mempersenjatai para demonstran yang turun ke jalan. Pemerintah Iran secara konsisten menyalahkan campur tangan asing atas gelombang kerusuhan, termasuk Israel, yang disebut sebagai musuh utama Republik Islam dan diketahui melancarkan serangan militer ke Iran pada Juni lalu.
Selain korban jiwa, pemerintah Iran sebelumnya mengungkapkan telah menangkap sedikitnya 3.000 orang sejak demonstrasi berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertanggung jawab atas kematian warga selama gelombang protes tersebut.
“Kami menuduh presiden Amerika Serikat bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan tuduhan yang dia ajukan terhadap bangsa Iran,” kata Khamenei dalam pidatonya di hadapan para pendukung, Sabtu (17/1), seperti dikutip AFP.
Akbari Danico – Redaksi

