National

Pemerintah Libatkan Warga lewat Padat Karya untuk Pemulihan Aceh Tamiang

Pemerintah Indonesia melibatkan peran aktif masyarakat melalui program padat karya untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Dalam program tersebut, warga yang terlibat menerima upah sebesar Rp 140.000 per hari.

Berdasarkan keterangan Tim Media Presiden di Jakarta, Rabu, wilayah Aceh Tamiang mulai bangkit setelah banjir melanda dan menyisakan lumpur di kawasan permukiman, ruas jalan, hingga fasilitas pendidikan. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah mempercepat penanganan pascabencana dengan pendekatan yang tak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali penghidupan warga terdampak.

Melalui program Padat Karya, warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pembersihan dan pemulihan wilayah. Setiap hari, mereka bekerja di sejumlah titik dengan sebuah penghasilan imbalan harian yang dinilai cukup berarti di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Di pusat kota Kuala Simpang, suasana gotong royong terlihat sejak pagi. Warga menyapu badan jalan yang masih tertutup bekas lumpur, sementara sebagian lainnya menyemprotkan air agar sisa tanah mudah dibersihkan.  Sampah dan material sisa banjir kemudian diangkut menggunakan truk menuju tempat pembuangan akhir.

Kementerian PU mengoptimalkan skema padat karya, terutama di lokasi yang sulit dijangkau alat berat. Dengan dukungan peralatan berukuran kecil, proses pembersihan tetap berjalan efektif dan menyentuh seluruh area terdampak, mulai dari jalan kota, permukiman, hingga fasilitas umum.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Menurutnya, pemulihan harus mampu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat. Infrastruktur yang pulih, harus sejalan dengan kehidupan warga yang kembali berjalan.

Selain membersihkan jalan kota, program padat karya juga menyasar pemulihan fasilitas pendidikan, salah satunya SMP Negeri 2 Karang Baru. Sejumlah warga tampak membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah yang masih tertutup lumpur agar kegiatan belajar mengajar dapat segera dimulai kembali.

Bagi masyarakat, padat karya tidak sekadar menjadi pekerjaan sementara. Seorang warga, Tri Kurniawan, mengaku terbantu karena penghasilan harian tersebut dapat digunakan untuk membantu orang tuanya di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Hal serupa disampaikan Arfansyah yang berharap sekolah di wilayahnya segera kembali berfungsi seperti sediakala.

Melalui program padat karya, pemerintah berupaya memastikan proses pemulihan di Aceh Tamiang berjalan secara menyeluruh—lingkungan dibersihkan, fasilitas umum dipulihkan, dan warga memperoleh penghasilan untuk menopang kehidupan selama masa pemulihan.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...