World

Trump Ancam Hancurkan Iran Jika Teheran Mengancam Keselamatannya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyatakan siap menghancurkan negara tersebut apabila Teheran mengeluarkan atau menjalankan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara bersama News Nation pada Selasa (20/1).

Dalam wawancara tersebut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan merespons secara ekstrem jika Iran berani mengancam keselamatannya. Ia bahkan menyebut kehancuran total sebagai konsekuensi yang akan diterima Teheran.

“Apa pun yang terjadi, seluruh negara itu akan lenyap dari muka bumi,” kata Trump.

Ia menambahkan bahwa dirinya telah mengeluarkan instruksi tegas untuk melakukan serangan besar-besaran jika ancaman tersebut benar-benar terjadi, seperti dikutip dari News Nation.

Ancaman Trump muncul setelah parlemen Iran mengeluarkan peringatan keras terkait keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Parlemen menyatakan bahwa serangan apa pun terhadap Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap dunia Islam dan memicu seruan jihad global.

“Serangan apa pun yang menargetkan Pemimpin Tertinggi berarti deklarasi perang dengan dunia Islam, yang akan disahkan melalui fatwa jihad oleh para ulama Islam dan akan ditanggapi oleh seluruh tentara Islam di dunia,” demikian pernyataan parlemen Iran pada Selasa, seperti dikutip Iranian Students News Agency (ISNA).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Situasi memanas setelah Iran dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran, yang mendorong Trump mengancam akan melakukan intervensi, termasuk opsi militer, dengan dalih mendukung rakyat Iran.

Sejak demonstrasi pecah pada 28 Desember, Amerika Serikat dan Israel secara terbuka menyatakan dukungan terhadap para demonstran dan mendorong upaya penggulingan Khamenei. Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu bahkan mengklaim bahwa agen-agen intelijen Israel telah menyusup ke dalam aksi protes, serupa dengan keterlibatan mereka dalam konflik Iran-Israel selama perang 12 hari pada Juni 2025.

Sementara itu, jumlah korban jiwa akibat demonstrasi masih menjadi perdebatan. Kelompok hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, HRANA, mencatat sedikitnya 4.519 orang tewas. Namun, pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters menyebut angka korban mencapai sekitar 5.000 jiwa.

Demonstrasi di Iran awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi, sebelum berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim. Pemerintah Iran pun telah memperingatkan akan meluncurkan serangan antisipatif apabila Amerika Serikat dianggap ikut campur dalam urusan domestik negara tersebut.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...