Beroperasinya sumur bor bantuan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Aceh Tamiang menjadi harapan baru bagi warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air bersih pascabanjir. Aliran air jernih dari kedalaman tanah kini kembali menghidupkan aktivitas warga yang sempat terganggu.
Di halaman Puskesmas Karang Baru, suara mesin pompa yang terus berdengung menjadi penanda dimulainya kembali kehidupan yang lebih normal bagi masyarakat sekitar. Air bersih mengalir tanpa henti, disambut antusias warga yang datang silih berganti membawa ember, jeriken, hingga galon.
Sumur bor tersebut merupakan bagian dari program pembangunan 66 titik sumur bor di tiga provinsi terdampak banjir di Sumatera. Dari jumlah itu, delapan lokasi telah rampung dan langsung dimanfaatkan masyarakat, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang.
Setiap sumur bor dibangun dengan kedalaman rata-rata 100 meter dan dilengkapi pompa submersible, rumah tenaga listrik, serta toren air berkapasitas 1.000 liter. Infrastruktur ini dirancang untuk memastikan pasokan air bersih yang stabil dan aman digunakan warga.
Hasil pengujian menunjukkan kualitas air memenuhi standar utama. Nilai pH air tercatat 7,1, kadar besi berada di bawah 1 mg/L, serta tingkat kekeruhan di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Sejak sumur bor mulai beroperasi, petugas PU terlihat membantu warga mengangkat ember-ember berisi air ke rumah masing-masing. Suasana ceria dan rasa lega terpancar dari wajah masyarakat yang selama ini harus membeli air bersih atau bergantung pada bantuan distribusi air.
Jasinar, salah seorang warga Aceh Tamiang, mengaku kehadiran sumur bor ini sangat membantu kehidupan sehari-hari keluarganya.
Pemerintah berharap pembangunan sumur bor ini dapat mempercepat pemulihan kondisi sosial dan kesehatan masyarakat pascabanjir, sekaligus menjamin ketersediaan air bersih di wilayah rawan bencana.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

