Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak berniat melancarkan serangan militer terhadap Iran, meski tekanan justru datang dari Israel yang disebut menginginkan opsi militer terhadap negara Timur Tengah tersebut.
Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa isu ini mencuat dalam pertemuan pejabat tinggi militer Amerika Serikat dan Israel yang digelar di Washington pada Senin (2/2). Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel Jenderal Eyal Zamir dan Direktur Mossad David Barnea.
Dalam pertemuan itu, Zamir disebut memberikan pengarahan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine terkait rencana perang Israel yang telah disusun sepanjang akhir pekan. Namun, pengarahan tersebut tidak mengubah sikap Washington terhadap opsi serangan ke Iran.
“Tidak ada satu pun hasil pertemuan yang mengubah pandangan Jenderal Caine maupun presiden mengenai serangan terhadap Iran,” ujar seorang pejabat AS kepada Axios, seperti dikutip Anadolu Agency. Pejabat tersebut menegaskan bahwa dorongan untuk menyerang justru datang dari pihak Israel, sementara Trump menolak langkah tersebut.
Pejabat senior AS lainnya juga menyatakan bahwa Trump “tidak ingin melakukannya,” meskipun dalam beberapa kesempatan sebelumnya ia melontarkan ancaman keras kepada Teheran.
Sejak awal Januari, Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran apabila negara itu terus bertindak represif terhadap demonstran. Iran sendiri dilanda gelombang demonstrasi massal sejak akhir Desember hingga akhir Januari, yang awalnya berlangsung damai sebelum berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas.
Pemerintah Iran menuding aksi tersebut disusupi agen Israel dan Amerika Serikat, serta menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap para pengunjuk rasa. Di sisi lain, Trump juga menambahkan ultimatum berupa tuntutan kesepakatan nuklir, sembari menyatakan bahwa kapal perang dan kapal induk AS telah disiagakan di perairan Timur Tengah.
Meski demikian, para pejabat Iran, termasuk presiden dan menteri luar negeri, menyatakan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan nuklir, dengan syarat dialog dilakukan tanpa ancaman militer.
Akbari Danico – Redaksi

