Presiden China Xi Jinping menyampaikan peringatan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penjualan senjata ke Taiwan dalam pembicaraan via telepon pada Rabu (4/2). Xi Jinping menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling sensitif dalam hubungan Beijing dan Washington.
Dalam pembicaraan tersebut, Xi Jinping meminta Amerika Serikat bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang menyangkut Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari kedaulatannya. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat dukungan militer AS terhadap Taiwan.
Televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa Xi menekankan pentingnya menjadikan isu Taiwan sebagai prioritas utama dalam menjaga stabilitas hubungan bilateral kedua negara. Ia menilai keputusan AS menyetujui penjualan senjata senilai US$11 miliar ke Taiwan pada Desember lalu berpotensi memperburuk situasi.
“Isu Taiwan merupakan persoalan paling krusial dalam hubungan China-AS. Amerika Serikat harus bersikap hati-hati dalam penjualan senjata ke Taiwan,” ujar Xi Jinping, seperti dikutip AFP.
Tak lama setelah keputusan tersebut, China menggelar latihan militer besar-besaran dengan tembakan langsung di sekitar perairan Taiwan sebagai simulasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di pulau tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Xi Jinping menyatakan bahwa pembicaraan dengan Trump bertujuan mendorong prinsip saling menghormati sebagai dasar penguatan hubungan China dan Amerika Serikat. Ia juga menyampaikan harapan agar berbagai persoalan bilateral, termasuk perdagangan, dapat diselesaikan secara damai.
“Dengan menyelesaikan masalah secara bertahap dan terus memperkuat kepercayaan bersama, kita dapat menemukan jalan yang tepat bagi kedua negara untuk menjalin hubungan,” kata Xi Jinping.
Xi Jinping bahkan berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi kedua negara besar untuk melangkah menuju kerja sama yang saling menguntungkan.
Sementara itu, Trump menyebut percakapan dengan Xi sebagai pembicaraan yang berjalan sangat baik. Melalui unggahan di Truth Social, ia menilai hubungan antara Amerika Serikat dan China berada pada tingkat yang sangat positif.
Trump mengatakan, diskusi tersebut mencakup sejumlah isu penting, mulai dari perdagangan, Taiwan, perang Rusia di Ukraina, hingga Iran, serta rencana kunjungannya ke China yang disebut sangat ia nantikan.
Sebagai latar belakang, Partai Komunis China tidak pernah memerintah Taiwan yang demokratis, namun Beijing tetap mengklaim pulau berpenduduk sekitar 23 juta jiwa itu sebagai bagian dari wilayahnya. Amerika Serikat sendiri tidak secara resmi mengakui Taiwan, tetapi tetap menjadi pendukung militer utama pulau tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

