Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggelar pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) pada Jumat, 19 Februari. Undangan rapat tersebut dikirim langsung oleh Trump kepada sejumlah negara.
Berdasarkan surat undangan keterangan pejabat Amerika Serikat dan diplomat yang diundang, pertemuan akan berlangsung di Institut Perdamaian Amerika Serikat, Washington. Agenda utama rapat perdana ini disebut berkaitan dengan penggalangan dana untuk proyek pembangunan ulang Jalur Gaza, meski rincian lebih lanjut masih dalam tahap pembahasan.
Rencana pertemuan BoP pertama kali dilaporkan oleh Axios dan akan menjadi pertemuan resmi pertama organisasi tersebut sejak upacara penandatanganan di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Hingga kini, belum diketahui secara pasti negara mana saja yang akan hadir, termasuk siapa saja perwakilan yang akan mengikuti pertemuan secara langsung.
Isu pembangunan kembali Gaza sebelumnya juga disampaikan menantu Trump, Jared Kushner, dalam forum WEF di Davos. Jared memaparkan rencana rekonstruksi Gaza pascaperang dengan fokus membangun ulang kota-kota yang hancur akibat konflik Palestina dan Israel.
Ia menyebut proyek tersebut mencakup pembangunan infrastruktur strategis seperti bandara dan pelabuhan, serta pengembangan kawasan wisata di pesisir Gaza. Selain itu, dua kota utama—Rafah dan Gaza—direncanakan menjadi pusat pengembangan permukiman dan industri.
Menurut Jared, Rafah akan dibangun dengan sedikitnya 100.000 unit perumahan permanen, 200 sekolah, dan 75 fasilitas kesehatan. Sementara itu, Gaza diproyeksikan sebagai pusat industri dengan target menciptakan lapangan pekerjaan baru secara menyeluruh.
Jared mengklaim proses pembersihan puing-puing pascaperang telah dimulai dan proyek pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu maksimal tiga tahun. Pendanaan tahap awal disebut akan berasal dari pemerintah Amerika Serikat, dengan rincian lebih lanjut akan diumumkan melalui konferensi pers di Washington.
Selain dukungan pemerintah, Jared juga mengajak sektor swasta untuk terlibat dalam proyek tersebut. Ia menilai pembangunan Gaza sebagai peluang investasi jangka panjang, meski diakui memiliki risiko tinggi.
Akbari Danico – Redaksi

