World

Presiden Taiwan Peringatkan Ancaman China Bisa Meluas ke Indo-Pasifik

Presiden Taiwan, Lai Ching Te, memperingatkan sejumlah negara di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Asia Tenggara, berpotensi menjadi sasaran berikutnya apabila China berhasil menginvasi dan menduduki Taiwan. Peringatan itu disampaikan Lai dalam wawancara bersama AFP di Taipei, Selasa (10/2).

Lai menilai ambisi Beijing tidak akan berhenti di Taiwan dan justru akan memperluas tekanan ke negara-negara lain di kawasan.

“Jika Taiwan dianeksasi China, ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti di sana,” kata Lai di Gedung Kantor Presiden Taiwan.

Ia menyebut Jepang dan Filipina sebagai negara yang berpotensi menghadapi ancaman berikutnya.

“Negara-negara berikutnya yang berada dalam ancaman adalah Jepang, Filipina, dan negara lainnya di Indo-Pasifik, yang pada akhirnya bisa meluas hingga Amerika dan Eropa,” ujarnya.

Menurut Lai, China akan bertindak semakin agresif dan mengancam stabilitas kawasan hingga tatanan hukum internasional. Ia menegaskan situasi tersebut menjadi alasan bagi Taipei untuk memperkuat pertahanan nasional.

China selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk menempatkan pulau itu di bawah kendalinya. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Beijing berulang kali meningkatkan tekanan militer dan diplomatik terhadap Taipei.

Sebagai respons, Taiwan memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi mitra utama dalam penyediaan persenjataan dan dukungan pertahanan. Lai bahkan mengusulkan tambahan anggaran militer sekitar US$40 miliar untuk pembelian senjata, terutama dari AS, meski langkah itu mendapat peringatan keras dari Beijing.

Kekhawatiran terhadap meningkatnya agresivitas China juga disuarakan sejumlah negara di kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer jika Taiwan diserang, sementara Presiden Filipina Ferdinand Marcos menyatakan negaranya hampir pasti akan terseret konflik mengingat akses militer AS ke sembilan pangkalan di Filipina.

Dalam kesempatan yang sama, China terus memperluas pengaruhnya di Indo-Pasifik, termasuk mempertahankan klaim hampir 90 persen wilayah Laut China Selatan yang tumpang tindih dengan klaim beberapa negara Asia Tenggara.

Pernyataan Lai menegaskan bahwa isu Taiwan tidak hanya menjadi persoalan lintas selat, tetapi juga berpotensi memicu dinamika keamanan yang lebih luas di kawasan Indo-Pasifik.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...