Densus 88 AT Polri Satgaswil Sumatera Barat menggelar sosialisasi bertema “Parenting Ideologi Cegah Kekerasan Anak di Era Digital” di Padang sebagai langkah pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme (IRET) di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menyoroti tantangan baru yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Di satu sisi, teknologi memperluas akses pembelajaran, namun di sisi lain membuka ruang penyebaran ideologi yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan kebhinekaan. Forum ini menempatkan sekolah sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan ideologis generasi muda.
Kepala Satgaswil Sumatera Barat, KBP Jim Brilliant Birnes, menjelaskan bahwa penyebaran paham ekstrem kerap memanfaatkan media sosial, forum daring, dan narasi provokatif yang menyasar pelajar dalam fase pencarian jati diri. Menurutnya, kelompok usia sekolah rentan terpengaruh konten digital yang dikemas secara persuasif. Karena itu, penguatan literasi digital dan pengawasan berbasis edukasi menjadi kunci pencegahan. Pendekatan ini menekankan deteksi dini tanpa mengabaikan aspek pembinaan.
Sebanyak 242 kepala SMA se-Sumatera Barat menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk konsolidasi peran pendidikan. Guru dan tenaga pendidik didorong untuk mengenali tanda-tanda perubahan perilaku siswa yang mengarah pada sikap intoleran atau eksklusif. Peningkatan kapasitas pendidik dipandang penting agar sekolah mampu merespons dinamika sosial di ruang digital secara proporsional. Sosialisasi ini juga membuka ruang kerja sama antara sekolah dan aparat dalam membangun karakter siswa.
Melalui kegiatan ini, para kepala sekolah diharapkan menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, damai, dan inklusif. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan aparat keamanan ditempatkan dalam kerangka pencegahan, bukan represif. Upaya tersebut mencerminkan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendidikan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga benteng nilai kebangsaan di era digital.
Alexander Jason – Redaksi

