Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau progres pembangunan Taman Bendera Pusaka di Jalan Barito I, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (13/2). Ia menegaskan, dengan progres pembangunan yang telah mencapai 92 persen, taman ini siap menjadi ruang terbuka hijau sekaligus pengendali banjir.
Pramono menjelaskan, Taman Bendera Pusaka akan terintegrasi secara menyeluruh dengan kawasan sekitar, termasuk dilengkapi jogging track sepanjang 1,2 kilometer. Saat ini masih terdapat sejumlah pekerjaan tahap akhir, di antaranya pembangunan terowongan penghubung dari Taman Langsat ke Taman Leuser yang melintasi Jalan Kiai Maja, serta pembangunan jembatan penghubung antara Taman Ayodya dan Taman Langsat.
Selain sebagai ruang terbuka hijau, taman ini juga dirancang memiliki fungsi pengendalian banjir. Di lokasi tersebut dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) oleh Dinas Sumber Daya Air untuk memastikan kualitas air tetap bersih dan tidak berbau, sekaligus membantu pengendalian genangan di kawasan sekitar.
Ia juga menekankan pentingnya aspek perawatan setelah taman selesai dibangun. Untuk itu, Pramono meminta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta memastikan pengelolaan dilakukan secara optimal agar kualitas fasilitas tetap terjaga. Dari sisi keamanan, taman ini dilengkapi 127 titik CCTV yang terpasang di berbagai sudut area guna menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Taman Bendera Pusaka direncanakan beroperasi selama 24 jam dengan penataan pencahayaan (lighting) yang estetik, termasuk pencahayaan pada pepohonan agar terlihat lebih indah pada malam hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menjelaskan, Taman Bendera Pusaka mengusung konsep integrasi biru dan hijau. Pada musim kemarau, kawasan ini berfungsi sebagai taman. Adapun saat musim hujan, dengan intensitas curah hujan hingga 150 milimeter, kawasan ini mampu menampung debit banjir dari wilayah hulu sebelum dialirkan ke sungai, sehingga membantu mengurangi genangan di kawasan hilir, seperti Hang Lekir dan Hang Jebat.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

