National

Seporsi MBG Hadirkan Senyum Tenang bagi Anak-Anak Difabel di Sumba

Perubahan itu hadir lewat ketenangan. Di ruang kelas sederhana SLB Negeri Laura, Sumba Barat Daya, anak-anak grahita, terutama Down Syndrome, yang dulu sering uring-uringan kini lebih mampu mengendalikan diri. Mereka bertahan hingga pelajaran selesai. Mereka tidak lagi mudah kehilangan fokus sejak makan bergizi gratis (MBG) hadir di sekolah ini.

Kepala sekolah, Maria Dolorosa Mada, menuturkan anak-anak grahita, terutama dengan Down Syndrome, yang sebelumnya kerap mengalami ledakan emosi kini lebih mampu mengendalikan diri. Mereka bertahan hingga pelajaran selesai dan tidak lagi mudah kehilangan fokus sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sekitar tiga pekan terakhir.

Sekolah ini memiliki 68 siswa, meski yang tercatat resmi di Dapodik baru 59 siswa. Selebihnya masih terkendala administrasi, mulai dari persoalan kartu keluarga hingga data yang masih tercatat di sekolah lain.

Sejak 2025, sekolah ini juga membuka kelas jauh di Kodi Utara untuk melayani tiga desa yang jaraknya terlalu jauh jika harus datang ke sekolah induk. SLB Negeri Laura melayani berbagai kelas ketunaan, mulai dari tuna rungu wicara, tuna daksa, autis, grahita, termasuk Down Syndrome dan kelas lambat belajar, serta kelas tuna netra meski belum memiliki siswa.

Sekitar 40 anak tinggal di asrama, walau jumlahnya tidak selalu penuh setiap hari. Mayoritas siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Hampir 90 persen orang tua hidup dalam keterbatasan.

Maria menyebut, sejak MBG diberikan secara rapelan dalam tiga pekan terakhir, perubahan perilaku anak-anak semakin terlihat. Antusiasme hadir ke sekolah meningkat, ledakan emosi berkurang, dan durasi duduk belajar bertambah. Wajah-wajah mereka tampak lebih cerah.

Maria, yang berlatar belakang sarjana guru kimia, mengaku awal memimpin sekolah ini pada 2019 penuh tantangan. “Awal-awal mungkin banyak duka,” katanya. Namun perlahan, “Duka itu bisa berubah menjadi suka”.

Kini ia menyaksikan sendiri bagaimana seporsi makan siang bergizi mampu mengubah lebih dari sekadar rasa kenyang. Ia menenangkan, menstabilkan, dan memberi ruang bagi anak-anak difabel Sumba, terutama Down Syndrome, untuk belajar dengan lebih utuh, dan tersenyum lebih lama.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...