Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro mengungkapkan bahwa politik luar negeri Indonesia kini memasuki babak baru yang dinilai lebih nyata dan tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia saat ini tampak lebih jelas dengan berbagai langkah yang sebelumnya terasa lambat, kini bergerak lebih cepat.
Agung menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, posisi Indonesia semakin diperhitungkan di kancah internasional. Di UN Human Rights Council, Indonesia dipercaya menjabat sebagai ketua. Selain itu, Indonesia juga resmi bergabung dalam BRICS, kelompok negara ekonomi besar yang menjadi pusat perhatian dunia saat ini.
Menurutnya, langkah terbaru Presiden Prabowo adalah kunjungan ke luar negeri untuk menandatangani Agreement on Reciprocal Trade atau ART. Ia juga bertemu Presiden Donald Trump dalam forum Board of Peace. Dua agenda ini mencerminkan arah diplomasi yang tidak hanya simbolik, tetapi juga konkret.
“Perjanjian perdagangan resiprokal yang akan ditandatangani merupakan kesepakatan yang bertujuan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih adil. Indonesia berhasil menurunkan tarif dagang dengan Amerika Serikat. Dampaknya bisa langsung terasa. Produk Indonesia lebih mudah masuk pasar besar. Ekspor meningkat. Lapangan kerja terbuka. Ini bukan diplomasi basa-basi, melainkan diplomasi yang menyentuh dapur rakyat,” ujar Agung Baskoro.
Lebih lanjut, Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan serupa juga terlihat dari penandatanganan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi industri nasional untuk naik kelas dan menarik aliran investasi yang lebih deras ke dalam negeri.
Di sisi lain, keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) menghadirkan dimensi baru bagi kiprah internasional Tanah Air. Indonesia kini memiliki ruang strategis untuk terlibat dalam upaya resolusi konflik global, termasuk isu Palestina dan Israel. Gagasan two state solution dapat diperjuangkan dengan pendekatan yang lebih kredibel melalui dialog langsung dengan para pihak terkait guna mendorong perdamaian di Gaza.
Sejumlah negara memandang Indonesia sebagai mitra strategis, bukan semata karena besarnya jumlah penduduk, melainkan juga karena kepemimpinan yang dinilai tegas dalam menjembatani kepentingan Timur dan Barat. Di tengah tantangan ekonomi global serta dinamika geopolitik yang kian kompleks, arah kebijakan luar negeri saat ini dinilai menghadirkan optimisme bagi masa depan bangsa.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

