Pemerintah Inggris dilaporkan tengah mempertimbangkan pencoretan Pangeran Andrew dari garis suksesi takhta kerajaan menyusul penyelidikan atas hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein. Langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi lebih luas terhadap posisi Andrew di dalam institusi monarki.
Sumber pemerintah yang berbicara kepada AFP menyebutkan bahwa keputusan terkait status Andrew baru akan dipertimbangkan setelah penyelidikan kepolisian selesai. Saat ini, adik dari Raja Charles III tersebut masih berada di urutan kedelapan dalam garis suksesi takhta, setelah Putri Lilibet, anak dari Pangeran Harry.
Wacana pencoretan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan publik dan pengungkapan dokumen baru yang berkaitan dengan kasus Epstein. Survei yang dilakukan oleh YouGov menunjukkan bahwa 82 persen responden mendukung pencoretan Andrew dari garis suksesi takhta, mencerminkan kuatnya sentimen publik terhadap kasus tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Raja Charles III menegaskan bahwa seluruh proses harus mengikuti jalur hukum yang berlaku. “Hukum harus berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Charles, menegaskan komitmennya terhadap prinsip supremasi hukum.
Sejumlah pengamat menilai kasus ini menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan dan stabilitas monarki Inggris. Pakar kerajaan Ed Owens menyebut situasi tersebut menciptakan ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi masa depan institusi kerajaan dalam jangka panjang.
Secara hukum, pencoretan Andrew dari garis suksesi memerlukan perubahan undang-undang yang harus disahkan oleh parlemen Inggris. Pakar hukum tata negara dari University College London, Robert Hazell, menjelaskan bahwa perubahan tersebut juga membutuhkan persetujuan dari 14 negara Persemakmuran yang menjadikan Raja Charles III sebagai kepala negara.
“Sebelum garis suksesi dapat diubah, semua 14 negara tempat Raja Charles menjadi kepala negara, serta Inggris, harus mengubah hukum suksesi,” kata Hazell.
Sebelumnya, Raja Charles III telah mencabut berbagai gelar kehormatan milik Pangeran Andrew dan memintanya meninggalkan kediaman kerajaan di kawasan Windsor. Andrew juga dilaporkan ditangkap di kediaman barunya di kawasan Sandringham, wilayah Norfolk timur, atas dugaan pelanggaran jabatan publik.
Pangeran Andrew pernah menjabat sebagai utusan perdagangan Inggris pada periode 2001 hingga 2011. Ia diduga membagikan informasi sensitif terkait kunjungan resmi kepada Epstein, yang sebelumnya telah dihukum atas kasus prostitusi anak di Amerika Serikat pada 2008.
Andrew berulang kali membantah melakukan pelanggaran hukum. Ia juga menyelesaikan gugatan perdata di Amerika Serikat pada 2022 terkait tuduhan pelecehan seksual tanpa mengakui kesalahan.
Akbari Danico – Redaksi

