Government World

Iran Tunjuk Ayatollah Alireza Arafi Pimpin Dewan Kepemimpinan Sementara Usai Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Pemerintah Iran menunjuk ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, untuk memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi menyusul wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan ini menjadi bagian dari mekanisme transisi kepemimpinan tertinggi di Iran.

Mengutip laporan kantor berita mahasiswa Iran ISNA yang dilansir CBS News, Arafi akan memimpin dewan tersebut bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei. Dewan Kepemimpinan Sementara ini bertugas menjalankan fungsi kepala negara hingga proses pemilihan pemimpin permanen rampung.

“Dewan Penilaian Kepentingan Nasional telah memilih Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota dewan kepemimpinan sementara,” ujar juru bicara dewan tersebut, Mohsen Dehnavi, seperti dikutip Agence France-Presse, Minggu (1/3).

Dewan sementara yang terdiri dari presiden dan kepala lembaga yudisial itu akan memimpin negara hingga Majelis Ahli memilih pemimpin tertinggi yang baru. Proses ini menjadi ujian penting bagi stabilitas politik Iran di tengah situasi domestik dan tekanan eksternal.

Melansir Al Jazeera, Arafi yang kini berusia 67 tahun merupakan anggota Dewan Pengawas dan termasuk figur berpengaruh dalam struktur keagamaan Iran. Pengangkatannya menandai transisi kepemimpinan tertinggi kedua sejak Revolusi Islam 1979.

Profil Ayatollah Alireza Arafi
Dilaporkan Firstpost, Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd. Ia berasal dari keluarga ulama dan menghabiskan puluhan tahun menempuh pendidikan teologi serta berkarier dalam birokrasi keagamaan Iran.

Arafi menempuh pendidikan di Qom di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka hingga meraih gelar mujtahid, yang memberinya kewenangan mengeluarkan fatwa secara independen. Kariernya berkembang pada masa kepemimpinan Khamenei, yang memberinya sejumlah posisi strategis, termasuk memimpin salat Jumat di Meybod dan Qom.

Ia juga pernah menjabat sebagai ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga pendidikan yang melatih ulama dari dalam dan luar Iran. Pada 2019, Arafi diangkat menjadi anggota Dewan Penjaga, institusi berpengaruh yang bertugas mengawasi undang-undang dan proses pencalonan dalam pemilu.

Peran dan Tantangan Politik
Berdasarkan konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi harus merupakan ulama Syiah senior yang dipilih oleh Majelis Ahli, lembaga yang beranggotakan para cendekiawan agama. Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk untuk memastikan fungsi negara tetap berjalan hingga suksesi permanen ditetapkan.

Posisi Arafi di Dewan Penjaga dan kedekatannya dengan struktur Majelis Ahli memberinya pengaruh signifikan dalam proses transisi. Namun, ia juga dinilai akan menghadapi dinamika persaingan antara kelompok ulama garis keras dan kalangan pragmatis.

Dalam sejumlah pernyataannya, Arafi menekankan pentingnya peran seminari dan ulama dalam politik serta solidaritas terhadap kaum tertindas.

“Seminari harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis, revolusioner, dan berwawasan internasional,” ujarnya.

Meski memiliki legitimasi kuat di kalangan elit keagamaan, Arafi disebut relatif tidak memiliki basis politik independen yang luas, kondisi yang dapat menjadi tantangan tersendiri di tengah konflik eksternal dan ketidakstabilan internal yang dihadapi Iran saat ini.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...