Beredar unggahan di media sosial yang menggiring opini seolah-olah negara-negara yang tergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) terlibat dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Unggahan akun Instagram @adian_napitupulu mengunggah postingan foto Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disandingkan dengan foto Presiden RI Prabowo Subianto. Di bawah foto itu disematkan kalimat, “Hari ini dua negara teman Indonesia di BoP menyerang Iran, situasi yang sulit dipahami.”. Unggahan ini pun disertai dengan caption yang provokatif: “Board of Peace atau Board of War!?”.
Konten tersebut mengandung unsur disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK). Narasi yang dibangun mencoba mengesankan bahwa BoP merupakan aliansi militer atau wadah persekutuan politik untuk perang. Faktanya, tidak ada kaitan struktural maupun operasional antara BoP dengan konflik militer AS–Israel dan Iran.
Pendirian BoP jelas bukan sebagai wadah pertemanan antarnegara yang sepaham, melainkan ruang perundingan yang mempertemukan berbagai pihak dengan pandangan berbeda, sebagaimana praktik diplomasi yang tercatat dalam sejarah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan, tujuan keanggotaan Indonesia di BOP adalah untuk mendorong penghentian kekerasan dan perlindungan warga sipil. Pemerintah Indonesia sendiri siap mengambil peran sebagai mediator dalam dinamika konflik yang terjadi. Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia konsisten berada di jalur diplomasi, dialog, dan musyawarah, bukan pada pendekatan perang atau kekerasan.
Sikap tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Dengan demikian, klaim bahwa BoP terlibat dalam konflik militer adalah tidak berdasar.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh konten bermuatan DFK. Setiap informasi sebaiknya diverifikasi melalui sumber resmi dan tepercaya sebelum disebarluaskan, guna mencegah penyebaran kabar yang dapat memperkeruh situasi.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

