Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena La Nina lemah yang melanda Indonesia sejak Oktober 2025 telah resmi berakhir. Seiring berakhirnya fenomena tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal pada 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari kondisi normal. Dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 400 ZOM atau 57,2 persen diprediksi mengalami kemarau lebih lama.
“Jadi ini perlu dicatat, bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi di tahun 2026 itu akan lebih panjang dari normalnya,” ujar Faisal dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BMKG, Rabu (4/3/2026).
Ia berharap informasi tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan berbagai sektor dalam menyusun langkah mitigasi serta strategi antisipasi jangka panjang terhadap dampak iklim.
BMKG memaparkan, awal musim kemarau 2026 akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian bergerak ke arah barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya. Pada April 2026, sebanyak 114 ZOM atau sekitar 16,3 persen wilayah diprediksi mulai memasuki kemarau. Jumlah itu meningkat menjadi 184 ZOM (26,3 persen) pada Mei dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni.
Secara keseluruhan, 325 ZOM atau 46,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dari normal. Sementara 173 ZOM atau 23,7 persen diprediksi mengalami musim kemarau sesuai pola biasanya. Dari sisi sifat musim, BMKG memperkirakan 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah akan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau, sehingga kondisi diproyeksikan lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.
Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia. Bahkan, sebanyak 410 ZOM atau 58,7 persen wilayah diperkirakan mengalami puncak kemarau yang datang lebih awal dari biasanya, sementara 142 ZOM atau 20,3 persen diprediksi tetap sesuai pola normal.
BMKG mengingatkan potensi kemarau panjang dan kondisi lebih kering ini perlu diantisipasi, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Akbari Danico – Redaksi

