Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus memperkuat perannya dalam pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Aceh. Berdasarkan pantauan lapangan, personel TNI terlibat langsung dalam pembangunan kembali fasilitas ibadah yang terdampak.
Di Desa Tertinggi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, prajurit bersama warga membangun masjid sejak tahap fondasi hingga kerangka bangunan. Kegiatan ini menunjukkan fokus pemulihan tidak hanya pada hunian, tetapi juga sarana spiritual masyarakat.
Meski berlangsung di bulan Ramadan, semangat kerja prajurit dan warga tetap terjaga demi percepatan penyelesaian fasilitas ibadah. Data Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi mencatat 98 persen rumah ibadah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kembali beroperasi. Dari total 1.593 fasilitas terdampak, sebanyak 1.558 unit sudah dapat digunakan kembali per 27 Februari. Di Aceh sendiri, 906 dari 918 rumah ibadah telah berfungsi, sementara sisanya masih dalam tahap penyelesaian.
Selain pembangunan masjid, upaya gotong royong juga terlihat di Desa Gumpang Lempuh, Kecamatan Putri Betung, dan Desa Setul, Kecamatan Tripe Jaya. Di kedua lokasi tersebut, TNI bersama masyarakat merakit jembatan gantung untuk memulihkan akses transportasi yang terputus akibat bencana. Pembangunan infrastruktur penghubung ini menjadi elemen penting dalam menggerakkan kembali aktivitas sosial dan ekonomi warga. Pendekatan kolaboratif mempercepat proses rehabilitasi sekaligus memperkuat solidaritas lokal.
Tak hanya berfokus pada pembangunan fisik, prajurit TNI juga menghadirkan layanan kesehatan di Desa Gumpang Pekan, Kecamatan Putri Betung. Pelayanan tersebut ditujukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama masa pemulihan. Keterlibatan lintas sektor ini menegaskan bahwa rehabilitasi pascabencana membutuhkan pendekatan terpadu. Dengan progres yang terus berjalan, pemulihan wilayah terdampak diharapkan berlangsung menyeluruh dan berkelanjutan.
Alexander Jason – Redaksi

