Iran dilaporkan semakin sering menggunakan rudal balistik yang dilengkapi bom klaster dalam serangan ke Israel. Senjata ini dinilai menjadi ancaman baru karena mampu menyebarkan puluhan bom kecil di udara yang kemudian jatuh ke area luas, sehingga lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Pakar rudal Israel, Tal Inbar, mengatakan penggunaan submunisi tersebut merupakan salah satu cara untuk menembus sistem pertahanan rudal Israel yang selama ini cukup efektif melindungi wilayah negara itu.
“Ini adalah mekanisme untuk melewati pertahanan rudal aktif,” ujarnya, seperti dikutip CNN International, Jumat (13/3/2026).
Militer Israel memperkirakan sekitar 50 persen rudal yang ditembakkan Iran dalam konflik terbaru telah dilengkapi hulu ledak bom klaster. Jenis hulu ledak ini meledak di udara dan kemudian menyebarkan puluhan bom kecil ke area yang luas, sehingga meningkatkan risiko bagi warga di darat.
Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang biasanya menghantam satu target utama, bom klaster memecah ledakan menjadi banyak titik kecil. Setiap bom kecil membawa beberapa kilogram bahan peledak dan dapat tersebar hingga radius sekitar 10 kilometer dari titik pelepasan di udara.
Pola serangan seperti ini menjadi tantangan baru bagi sistem pertahanan udara Israel. Sistem pencegat seperti Iron Dome maupun sistem pencegat jarak jauh pada dasarnya dirancang untuk menghancurkan rudal utama di udara. Namun, jauh lebih sulit untuk menghentikan puluhan bom kecil yang jatuh secara acak setelah hulu ledak rudal terpecah.
Dalam beberapa serangan terbaru di wilayah Israel bagian tengah, bom-bom kecil tersebut dilaporkan jatuh di berbagai lokasi, mulai dari kawasan permukiman, jalan raya, hingga area bisnis. Serangan tersebut juga dilaporkan menyebabkan korban jiwa serta luka-luka di kalangan warga sipil.
Organisasi hak asasi manusia Amnesty International sebelumnya mengecam penggunaan amunisi klaster dalam konflik bersenjata karena dinilai bersifat tidak pandang bulu dan berisiko tinggi terhadap penduduk sipil. Senjata jenis ini bahkan telah dilarang oleh lebih dari 100 negara melalui Konvensi Amunisi Klaster 2008, meskipun Iran dan Israel bukan penandatangan perjanjian tersebut.
Selain menimbulkan kerusakan fisik, para analis menilai penggunaan bom klaster juga memiliki dampak psikologis dan strategis. Dengan satu rudal yang melepaskan puluhan bom kecil, serangan dapat memaksa jutaan warga Israel masuk ke tempat perlindungan serta meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara negara tersebut.
Para ahli juga menilai strategi ini berpotensi menguras persediaan rudal pencegat Israel yang biayanya sangat mahal. Dengan cara tersebut, Iran dapat menciptakan dampak yang lebih besar meskipun meluncurkan jumlah rudal yang lebih sedikit dibandingkan serangan sebelumnya.
Akbari Danico – Redaksi

