World

Trump Ancam Tunda KTT dengan Xi Jika China Tak Bantu Buka Selat Hormuz

Presiden Donald Trump mengancam akan menunda pertemuan puncak yang telah lama direncanakan dengan Presiden China, Xi Jinping, di tengah meningkatnya ketegangan terkait konflik di Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu, Trump mengatakan ia “mungkin menunda” pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret di Beijing apabila China tidak memenuhi permintaannya untuk mengirim kapal perang guna membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam dua pekan ke depan.

Trump menyatakan menunggu hingga pertemuan puncak berlangsung untuk mendapatkan jawaban dari Beijing dinilai terlalu lama.

“Kami ingin mengetahuinya sebelum itu,” ujarnya.

China termasuk di antara sejumlah negara yang merespons dengan hati-hati permintaan Trump agar membantu menghadapi upaya Iran memblokade Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, China belum secara langsung menanggapi pernyataan Trump, namun sebelumnya menyerukan agar semua pihak menghentikan permusuhan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan para pejabat kedua negara masih membahas rencana pertemuan tersebut dan menekankan pentingnya diplomasi langsung antara para pemimpin negara.

“Diplomasi tingkat kepala negara memainkan peran strategis yang tak tergantikan dalam hubungan China–AS,” kata Lin dalam konferensi pers di Beijing.

Sementara itu di Paris, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melakukan pembicaraan lanjutan dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng untuk memfinalisasi persiapan pertemuan puncak tersebut.

Bessent mengatakan kemungkinan penundaan pertemuan lebih disebabkan keputusan Trump untuk tetap berada di Amerika Serikat selama perang dengan Iran berlangsung, bukan karena memburuknya hubungan antara Washington dan Beijing.

Xi Jinping sebelumnya mengundang Trump berkunjung ke Beijing ketika keduanya bertemu di Busan, Korea Selatanpada Oktober tahun lalu.

Sejak perang di Timur Tengah pecah pada akhir bulan lalu, harga minyak dunia melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel. Israel dilaporkan menargetkan fasilitas minyak Iran, sementara militer Amerika Serikat menyerang sejumlah target militer di Pulau Kharg, pusat pemrosesan sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.

Sebagai balasan, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta drone terhadap infrastruktur energi negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Trump sebelumnya menyatakan Amerika Serikat dan Israel tidak membutuhkan bantuan negara lain untuk menjalankan operasi militer terhadap Iran. Namun dalam beberapa hari terakhir, ia juga mengkritik sekutu-sekutu di Eropa dan Asia yang dinilai tidak ikut berpartisipasi dalam serangan tersebut.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...