Serangan rudal Iran yang terus berlanjut ke negara-negara Teluk sekutu Amerika Serikat, termasuk yang menargetkan fasilitas energi, menjadi tantangan besar bagi Washington dan Israel.
Situasi ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir tiga pekan sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Namun, upaya tersebut dinilai tidak mudah mengingat besarnya kapasitas persenjataan yang masih dimiliki Iran.
Mengutip laporan The Japan Times, pada Sabtu (21/3), sebelum perang pecah Iran disebut memiliki salah satu persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer dan kecepatan mencapai 17.000 kilometer per jam.
Sejumlah rudal juga dilengkapi hulu ledak cluster yang dinilai lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara. Jumlah pasti persediaan rudal Iran tidak diketahui, namun diperkirakan berada di kisaran 2.500 hingga 6.000 unit, dengan fasilitas peluncuran bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk di sekitar Teheran.
Selain itu, Iran juga dikenal sebagai produsen drone besar dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 10.000 unit per bulan. Drone jenis Shahed bahkan telah digunakan dalam berbagai konflik, termasuk di Ukraina.
Meski Trump menyatakan kemampuan rudal Iran telah hancur secara fungsional, pejabat militer AS menilai Teheran masih memiliki sebagian kapasitas serangan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengklaim kemampuan rudal dan drone Iran telah menurun signifikan setelah ratusan peluncur dihancurkan. Namun, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa stok rudalnya masih tersedia serta produksi tetap berjalan.
Di lapangan, intensitas serangan Iran memang dilaporkan menurun, namun serangan rudal dan drone masih terus berlangsung, termasuk yang menyasar fasilitas energi di kawasan Teluk.
Para analis menilai ancaman tetap tinggi karena setiap serangan berpotensi mengganggu pasokan energi global serta rantai logistik internasional.
Akbari Danico – Redaksi

