Sebuah kapal tanker minyak mentah milik Kuwait dilaporkan “diserang langsung” oleh pasukan Iran saat sedang berlabuh di pelabuhan Dubai, menurut kantor berita resmi Kuwait yang mengutip Kuwait Petroleum Corporation.
Pihak berwenang Uni Emirat Arab menyatakan insiden tersebut melibatkan serangan drone yang menyebabkan kapal tanker terbakar di perairan mereka. Tidak ada korban luka di antara 24 awak kapal, dan tim pemadam kebakaran maritim berhasil mengendalikan serta memadamkan api. Otoritas juga memastikan tidak terjadi kebocoran minyak.
Kuwait Petroleum Corporation mengungkapkan kapal bernama Al-Salmi itu sedang dalam kondisi penuh muatan saat diserang. Lambung kapal mengalami kerusakan, dan kebakaran sempat berpotensi memicu tumpahan minyak. Upaya penanggulangan dilakukan untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.
Perusahaan intelijen maritim Tanker Trackers memperkirakan kapal tersebut membawa sekitar dua juta barel minyak mentah—sekitar 1,2 juta dari Arab Saudi dan 800 ribu dari Kuwait. Kapal raksasa sepanjang hampir 1.100 kaki itu diketahui dibangun pada 2011 oleh Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering.
Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi atas laporan serangan tersebut. Di saat yang sama, militer Kuwait menyatakan tengah menghadapi serangan rudal dan drone yang bersifat bermusuhan.
Sebelumnya, serangan Iran juga melukai 12 tentara Amerika Serikat di pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi, dua di antaranya dalam kondisi serius. Sehari setelahnya, beberapa drone menghantam Bandara Internasional Kuwait dan merusak sistem radar, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Serangkaian serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk terhadap Israel dan negara-negara Teluk. Situasi tersebut menunjukkan Iran masih memiliki kapasitas militer untuk mengganggu stabilitas kawasan melalui rudal dan drone.
Insiden terhadap tanker Kuwait terjadi di tengah lumpuhnya aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Sepanjang Maret, kurang dari 150 kapal tanker melintasi jalur tersebut, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari.
Sebelum serangan ini, badan pemantau maritim Inggris juga melaporkan puluhan insiden mencurigakan yang melibatkan kapal-kapal di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran.
Akbari Danico – Redaksi

