Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menambah 20 unit truk pengangkut sampah untuk mengatasi penumpukan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Kramat Jati, Jakarta Timur. Langkah ini diambil di tengah kondisi sampah yang belum sepenuhnya tertangani meski pengangkutan terus dilakukan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, penambahan armada difokuskan untuk mempercepat penguraian tumpukan sampah yang mengganggu aktivitas warga.
“Yang di Kramat Jati kemarin secara khusus kami tambah 20 truk baru untuk mengurangi itu,” ucap Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia mengakui, penanganan sampah di Jakarta belum sepenuhnya tuntas dan masih terdapat sejumlah lokasi yang mengalami penumpukan.
“Untuk sampah memang belum semuanya selesai. Tetapi sampah yang ada di TPS yang ada mulai berkurang,” kata Pramono.
Penumpukan sampah di Jakarta terjadi setelah aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dibatasi akibat longsor. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya volume sampah usai libur Lebaran.
Sejumlah wilayah terdampak antara lain Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Di TPS Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, tumpukan sampah bahkan mencapai sekitar tiga meter dalam dua pekan terakhir.
Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, menyebut kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni pembatasan operasional di Bantargebang dan lonjakan sampah pascalibur Lebaran.
“Untuk penumpukan di TPS Rawadas RW 02 Kelurahan Pondok Kopi ini memang terjadi usai terjadinya longsor di Bantargebang dan setelah libur Lebaran. Tapi untuk hari ini alhamdulillah kita akan melakukan pengangkutan sebanyak empat truk, ungkap Sandy Adamsyah saat ditemui di TPS Rawadas, Selasa.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Pasar Kopro, Jakarta Barat, serta TPS Kencana di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tumpukan sampah tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga menimbulkan bau menyengat dan berpotensi mengganggu kesehatan warga.
Warga berharap pemerintah segera menangani persoalan ini secara menyeluruh. Mereka menilai penumpukan sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

