Presiden Donald Trump pada Minggu (5/4) kembali meningkatkan ancamannya untuk membombardir pembangkit listrik Irandalam dua hari ke depan, disertai pernyataan bernada provokatif melalui media sosial.
Trump, yang tampak semakin percaya diri setelah keberhasilan penyelamatan seorang pilot AS di Iran pada akhir pekan, mengeluarkan ultimatum baru agar Teheran segera menghentikan blokade di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dan gas di Teluk Persia—paling lambat Senin.
Ia memperingatkan bahwa jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, militer AS akan menargetkan infrastruktur energi Iran yang menjadi sumber listrik bagi jutaan warga sipil. Ancaman itu disampaikan dalam unggahan media sosial dengan bahasa yang kasar dan kontroversial.
Menanggapi pernyataan tersebut, media Iran yang berafiliasi dengan lembaga peradilan menyebut bahwa keteguhan Iran telah “mendorong Trump ke ambang kegilaan”, sekaligus mengecam penggunaan bahasa yang dianggap menghina.
Sebelumnya, Trump telah dua kali menunda tenggat serangan. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, ia sempat menyatakan optimisme untuk mencapai kesepakatan dengan Iran pada Senin, namun kembali mengancam bahwa jika gagal, ia mempertimbangkan untuk “menghancurkan segalanya” dan mengambil alih minyak Iran.
Kementerian Luar Negeri Oman menyebut bahwa pembicaraan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz telah dilakukan, namun belum menghasilkan kesepakatan final.
Iran sendiri mengancam akan membalas dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur penting di Israel serta negara-negara Arab yang bersekutu dengan AS. Eskalasi ini berpotensi memperburuk kondisi warga sipil di kawasan dan mengguncang ekonomi global yang sudah terdampak lonjakan harga energi sejak konflik dimulai.
Dalam dua hari terakhir, militer AS juga berpacu dengan pasukan Iran untuk menemukan awak pesawat yang hilang setelah jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh pada Jumat—insiden pertama pesawat tempur AS dijatuhkan sejak perang pecah.
Pilot pesawat tersebut berhasil diselamatkan dengan cepat, sementara satu awak lainnya sempat terdampar dan mengalami luka. Pasukan khusus AS akhirnya menemukan dan mengevakuasi personel tersebut dari wilayah dalam Iran pada malam hari.
Trump menyatakan tidak ada korban dari tim penyelamat, dan menyebut awak yang diselamatkan mengalami luka namun dalam kondisi baik.
Insiden ini menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas serangan, meskipun telah berulang kali menjadi target operasi militer. Di waktu yang sama, pesawat A-10 Thunderbolt II juga dilaporkan jatuh di dekat Selat Hormuz, meski pilotnya berhasil diselamatkan.
Pada Minggu, Israel dan sejumlah negara Teluk melaporkan adanya serangan drone dan rudal dari Iran. Pejabat Kuwaitmenyebut drone Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada dua fasilitas listrik dan desalinasi air, serta memicu kebakaran di kompleks minyak milik Kuwait Petroleum.
Situasi ini menandai eskalasi serius yang berpotensi meluas, dengan ancaman militer, tekanan ekonomi, dan dampak kemanusiaan yang semakin besar di kawasan.
Akbari Danico – Redaksi

