Beralih sejenak dari keberangkatan Wakil Presiden AS, JD Vance, ke Pakistan menjelang rencana perundingan damai dengan Iran, muncul pembaruan terkait kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Inflasi di AS tercatat meningkat pada bulan lalu dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat perang antara AS-Israel dan Iran yang mulai merembet ke sektor ekonomi yang lebih luas.
Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, harga konsumen naik 3,3 persen dalam periode 12 bulan hingga Maret, meningkat dari 2,4 persen pada Februari. Angka ini menjadi salah satu kenaikan bulanan terbesar sejak 2022, ketika dunia menghadapi krisis energi akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh melonjaknya harga bahan bakar. Penutupan Selat Hormuz selama konflik berlangsung menyebabkan harga minyak dunia meroket, yang kemudian berdampak langsung pada harga di tingkat konsumen.
Lonjakan harga energi ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah dapat dengan cepat memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk di Amerika Serikat.
Akbari Danico – Redaksi

