Pengumuman gencatan senjata dalam konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran pada Selasa malam sempat mencakup kesepakatan bersyarat untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, dalam praktiknya, hal tersebut belum terealisasi. Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal mana pun yang melintas tanpa izin mereka di jalur vital tersebut.
Lalu, bagaimana kondisi kapal yang tetap mencoba melintas sejak pengumuman gencatan senjata?
Berdasarkan data dari MarineTraffic, sejauh ini hanya 18 kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak Selasa: empat kapal pada Rabu, 10 kapal pada Kamis, dan empat kapal lagi pada Jumat (hingga pukul 13.00 BST).
Dari jumlah tersebut, empat kapal termasuk satu kapal tanker minyak berbendera Iran. Sementara itu, tiga kapal lainnya sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena terlibat dalam pengangkutan minyak Iran, termasuk satu tanker berbendera Rusia yang dijatuhi sanksi pada Juli 2025.
Informasi kepemilikan kapal tidak selalu tersedia secara terbuka. Namun, dari data yang berhasil diidentifikasi, dua kapal dimiliki oleh perusahaan yang beroperasi dari India, tiga kapal dari China, dan tiga lainnya dari perusahaan berbasis di Yunani.
Selain itu, terdapat satu kapal kargo berbendera Panama dengan kepemilikan yang tidak jelas, yang mencantumkan tujuan pelayaran dengan keterangan “pemilik dan awak dari China”.
Minimnya jumlah kapal yang melintas menunjukkan bahwa ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz masih tinggi, meskipun secara formal gencatan senjata telah diumumkan. Kondisi ini terus menekan arus perdagangan energi global yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

