Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika pemerintah Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai. Pernyataan ini disampaikan kurang dari sepekan sebelum masa gencatan senjata sementara dijadwalkan berakhir.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Hegseth berulang kali meminta Iran untuk “memilih dengan bijak” serta menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus diberlakukan selama diperlukan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sendiri terlihat mengombinasikan pendekatan diplomasi dan tekanan. Di satu sisi, Washington menyatakan kesepakatan damai masih dalam jangkauan, namun di sisi lain juga meningkatkan ancaman terhadap kepemimpinan Iran, di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan di dalam negeri AS.
Hegseth menegaskan bahwa jika Iran tidak merespons secara positif, maka konsekuensinya adalah kombinasi antara blokade dan serangan terhadap infrastruktur penting, termasuk sektor energi dan kelistrikan. Namun demikian, langkah yang menargetkan infrastruktur sipil berpotensi melanggar hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyatakan bahwa kekuatan Angkatan Laut AS di kawasan Pasifik juga dapat dilibatkan untuk mencegat kapal yang berupaya memasok kebutuhan Iran. Hal ini membuka kemungkinan perluasan cakupan blokade di luar kawasan Timur Tengah.
Iran sebelumnya merespons dengan ancaman untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan di kawasan Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Merah. Meski demikian, efektivitas langkah tersebut masih menjadi pertanyaan, mengingat keterbatasan kemampuan militer Iran yang telah terdampak konflik.
Meski begitu, Iran masih memiliki opsi untuk mengganggu jalur pelayaran, termasuk melalui penggunaan ranjau laut maupun kapal cepat di Selat Hormuz. Selain itu, kelompok sekutu seperti Houthi movement juga dinilai memiliki kapasitas untuk menyerang kapal di Laut Merah.
Sejumlah analis menilai bahwa blokade yang dilakukan Amerika Serikat memang akan menekan perekonomian Iran, namun belum tentu cukup untuk memaksa perubahan kebijakan dari pemerintahnya. Di sisi lain, langkah tersebut juga berisiko memperburuk krisis energi global yang sudah berlangsung.
Akbari Danico – Redaksi

