Ukraina dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di Rusia pada Sabtu (18/4) dini hari waktu setempat, termasuk dua kilang minyak dan beberapa infrastruktur penting lainnya. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat kembali memberikan dispensasi kepada Rusia untuk menjual minyaknya, meskipun masih berada di bawah sanksi Washington.
Sebelumnya, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap ekspor energi Rusia karena dinilai menjadi sumber pendanaan bagi operasi militer Moskow di Ukraina. Namun, kebijakan dispensasi kembali diberikan di tengah lonjakan harga minyak global.
Kementerian Keuangan AS menyatakan langkah tersebut bertujuan menjaga ketersediaan pasokan energi di pasar internasional, terutama saat ketegangan geopolitik meningkat akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, mengatakan bahwa serangan menyasar kilang minyak di Novokuybyshevsk dan Syzran di wilayah Samara, terminal minyak Tikhoretsk di Krasnodar, pelabuhan Vysotsk di Laut Baltik, serta depot minyak di Sevastopol, Krimea.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia tidak secara langsung mengakui adanya serangan tersebut, namun menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat ratusan drone Ukraina dalam semalam.
Meski demikian, sejumlah pejabat daerah di Rusia melaporkan adanya dampak di lapangan. Gubernur Samara menyebut fasilitas industri terdampak, sementara otoritas di Krasnodar melaporkan kebakaran di depot minyak Tikhoretsk yang melibatkan ratusan personel pemadam.
Serangan drone juga dilaporkan memicu kebakaran di pelabuhan Vysotsk di wilayah Leningrad, meskipun api berhasil dipadamkan.
Brovdi menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons atas perpanjangan dispensasi AS yang memungkinkan pengiriman minyak Rusia melalui jalur laut hingga pertengahan Mei.
Kebijakan tersebut menjadi perpanjangan kedua setelah lisensi sebelumnya berakhir, meskipun sebelumnya sempat ada sinyal bahwa dispensasi tidak akan diperbarui.
Utusan khusus Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut kebijakan ini berdampak pada ratusan juta barel minyak Rusia, sekaligus memberikan dorongan terhadap pendapatan negara.
Badan International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pendapatan energi Rusia meningkat tajam pada Maret, mencerminkan pengaruh harga minyak yang tinggi serta kebijakan yang memungkinkan ekspor tetap berjalan di tengah sanksi.
Akbari Danico – Redaksi

