National

Program Sekolah Rakyat Bantu Anak Buruh Tani Tetap Sekolah Meski Ayah Depresi

Kisah Punijah, seorang buruh tani serabutan, mencerminkan potret perjuangan masyarakat kecil dalam menghadapi keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi hidup yang serba kekurangan, ia harus memikul tanggung jawab keluarga seorang diri akibat kondisi suaminya yang tidak stabil. Anak sulungnya, Ahmad Lutfi, sempat terpaksa putus sekolah dan bekerja membantu ekonomi keluarga. Situasi ini menggambarkan bagaimana kemiskinan kerap memutus akses pendidikan bagi generasi muda.

Dalam keterbatasan tersebut, keinginan Lutfi untuk kembali bersekolah menjadi beban emosional tersendiri bagi Punijah. Ia menyadari pentingnya pendidikan, namun tidak memiliki kemampuan finansial untuk mewujudkannya. Lutfi bahkan sempat bekerja di pabrik kerupuk demi membantu kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menegaskan bahwa pilihan untuk bekerja sering kali bukan keinginan, melainkan keterpaksaan akibat keadaan.

Harapan baru muncul ketika Lutfi diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas 78 Sragen, yang menyediakan pendidikan tanpa biaya. Program ini tidak hanya mencakup pembelajaran, tetapi juga kebutuhan dasar seperti seragam, sepatu, dan konsumsi harian. Bagi Punijah, kesempatan ini menjadi titik balik yang membuka kembali jalan pendidikan anaknya. Bantuan tambahan berupa ternak dari Kementerian Sosial juga memberi harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Rasa syukur dan kebanggaan Punijah mencerminkan arti penting akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Ia melihat perubahan besar pada anaknya yang kini kembali memiliki semangat dan harapan untuk masa depan. Bagi dirinya, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi jawaban atas perjuangan panjang seorang ibu. Kisah ini menegaskan bahwa dukungan sosial yang tepat dapat menjadi katalis perubahan bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...