Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin setelah Iran menyatakan akan melakukan pembalasan atas serangan Amerika Serikat terhadap kapal kargo mereka di dekat Selat Hormuz. Eskalasi ini semakin menekan gencatan senjata rapuh yang dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat.
Presiden Donald Trump menyebut bahwa delegasi Amerika Serikat akan tiba di Pakistan untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai. Ia menambahkan bahwa pembicaraan ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata yang mulai berlaku sejak awal April.
Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa delegasi tersebut diperkirakan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Namun, media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran belum menyetujui pertemuan tersebut.
Ketegangan meningkat setelah kapal perusak Angkatan Laut AS menembaki kapal kargo Iran yang diduga melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. Menurut pernyataan Washington, pasukan Marinir kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kapal tersebut, dengan opsi penarikan kapal ke Oman tengah dipertimbangkan.
Menanggapi insiden tersebut, militer Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan atas tindakan yang mereka sebut sebagai “pembajakan bersenjata”.
Insiden ini terjadi di Laut Arab, di selatan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Sejak awal konflik, Iran telah memberlakukan pembatasan di jalur tersebut, sementara Amerika Serikat mulai memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak Brent, sebagai acuan utama dunia, naik lebih dari 6 persen hingga mendekati 96 dolar AS per barel. Secara keseluruhan, harga minyak telah meningkat sekitar 33 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasar energi global.
Akbari Danico – Redaksi

