National

Dari Tukang Bengkel Kini Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat

Hendi Saputro (16), remaja asal Plosorejo, Bendungan, Kedawung, Kabupaten Sragen, kini kembali ke bangku sekolah berkat Sekolah Rakyat Terintegrasi 78. Dulunya, ia terpaksa putus sekolah setelah lulus SD dan bekerja di bengkel untuk menghidupi keluarga, Minggu (19/4/2026).

Kondisi ayahnya yang stroke sejak ibunya meninggal tujuh tahun lalu memaksa Hendi bertahan hidup. Bersama nenek yang mengumpul karet dan kakek juru kunci makam, ia bekerja di bengkel dengan upah Rp150.000 per pekan untuk makan dan biaya adiknya.

“Dulu lulus SD, saya mau lanjut SMP gak bisa karena bapak saya stroke, (beliau) gak bisa menafkahi,” cerita Hendi.

Kehidupan yang keras di usia muda itu sempat membuat mimpinya tertunda. Namun kesempatan datang ketika ia diterima di Sekolah Rakyat. Kini, Hendi kembali mengenakan seragam sekolah. Ia kembali belajar, sesuatu yang dulu terasa mustahil baginya.

“Banyak banget (fasilitasnya) disini lengkap semua. Dari tas dikasih, laptop dikasih, fasilitas untuk belajar juga dikasih. Gratis semua,” kata Hendi.

Tak hanya itu, kebutuhan dasar seperti makan pun terjamin. Ia mengaku kini bisa mendapatkan makan tiga kali sehari, ditambah dua kali snack—sesuatu yang sebelumnya tidak selalu ia rasakan.

Hendi bercita-cita kerja di Jepang dan berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Terima kasih Bapak Presiden karena program sekolah rakyat ini. Semoga saya bisa gapai cita-cita,” katanya sambil mendoakan kesehatan Prabowo.

Kisah Hendi menjadi gambaran nyata bagaimana Sekolah Rakyat membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Dari bengkel kecil tempat ia bekerja, kini ia melangkah kembali ke ruang kelas—membawa harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...