Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasisme dalam sepak bola nasional. Ia menekankan bahwa setiap insiden yang mengandung unsur rasisme, baik di level pembinaan maupun profesional, harus ditangani secara serius, tegas, dan penuh tanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan klub.
Erick juga menyoroti pentingnya pembinaan sepak bola usia muda yang tidak hanya berfokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis semata. Menurutnya, proses pembinaan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, sikap saling menghormati, serta kepatuhan terhadap aturan dan keputusan wasit.
Ia menegaskan bahwa prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan rasa hormat harus ditanamkan sejak dini kepada para pemain. Menurutnya, prestasi tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan teknis, tetapi juga harus didukung oleh karakter dan mentalitas yang kuat.
Karena itu, Erick meminta operator kompetisi seperti I-League, yang mengelola Elite Pro Academy (EPA), serta Liga 1 dan Liga 2, untuk terus menegakkan nilai-nilai sportivitas dan empati di setiap level kompetisi.
PSSI juga mendorong penguatan sosialisasi terkait anti-rasisme, anti-kekerasan, serta pentingnya disiplin dan kepatuhan terhadap aturan secara konsisten. Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang sehat, aman, dan mendidik bagi para pemain.
Menurut Erick, kompetisi usia muda seharusnya menjadi wadah untuk membentuk pemain yang lebih matang, tidak hanya dari sisi kemampuan, tetapi juga dari segi sikap dan kepribadian. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan—mulai dari operator, klub, hingga ofisial—harus memastikan pembinaan karakter berjalan seiring dengan pembinaan teknik.
Dalam kesempatan tersebut, Erick juga mengapresiasi langkah Bhayangkara FC dan Dewa United FC yang telah mempertemukan serta mendamaikan pemain yang terlibat dalam insiden, yakni Fadly Alberto Hengga dan Rakha Nurkholis.
Ia menilai upaya tersebut mencerminkan nilai persatuan dan kesatuan yang sejalan dengan prinsip Pancasila, serta diharapkan menjadi pelajaran penting bagi para pemain untuk menjaga sikap dan menjunjung tinggi sportivitas di dalam maupun di luar lapangan.
Akbari Danico – Redaksi

