Kondisi bangunan di SMA Negeri 1 Jepon, Blora, Jawa Tengah, sempat memprihatinkan. Rekahan ubin di salah satu ruang kelas bahkan menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi membahayakan siswa.
Kepala sekolah, Dody Luhansa, menyebut ujung ubin yang pecah dapat melukai jika tidak segera diperbaiki. Selain itu, kondisi langit-langit yang berlubang juga menjadi perhatian. Ia mengkhawatirkan atap kelas dapat roboh sewaktu-waktu dan membahayakan aktivitas belajar mengajar.
Kerusakan juga terlihat pada pintu dan jendela kelas. Sejumlah pintu dalam kondisi rapuh, sementara jendela tidak lagi memiliki kaca dan tampak lapuk. Fasilitas sanitasi pun tak luput dari kerusakan. Urinoir terlihat menghitam, sementara wastafel di beberapa titik nyaris terlepas dari dinding.
Kondisi tersebut dinilai membuat lingkungan belajar menjadi kurang nyaman bagi siswa. Program revitalisasi sekolah kemudian dilakukan untuk memperbaiki berbagai kerusakan tersebut. Sebanyak tiga ruang kelas dan satu gedung indoor menjadi fokus perbaikan.
“Sebelum revitalisasi, memang banyak kerusakan pada gedung-gedung di sini,” ujar Dody.
Berdasarkan informasi proyek, revitalisasi tersebut menelan anggaran sekitar Rp1,6 miliar. Pendanaan berasal dari Bantuan Kemasyarakatan Presiden melalui panitia revitalisasi sekolah. Proses pembangunan berlangsung selama 120 hari, dimulai pada akhir Desember 2025 hingga akhir April 2026.
Saat ini, proses perbaikan hampir rampung. Bangunan yang sebelumnya rusak kini terlihat lebih kokoh dan tertata. Ruang kelas juga dibuat lebih tinggi untuk meningkatkan kenyamanan siswa. “Gedung ditinggikan sehingga lebih nyaman untuk kegiatan belajar. Kami sangat terbantu dengan program ini,” kata Dody.
Dengan perbaikan tersebut, lingkungan belajar di SMAN 1 Jepon diharapkan menjadi lebih aman dan mendukung kegiatan pendidikan secara optimal.
Akbari Danico – Redaksi

