Salah satu tokoh yang sebelumnya aktif mendorong pelaksanaan Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama (NU), Mas Muhammad Maftuch, kini menyatakan dukungan kepada Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Maftuch, yang pernah terlibat dalam inisiatif Pra-MLB NU bersama sejumlah kiai, menilai Cak Imin memiliki pengalaman politik panjang yang menjadi modal penting untuk memimpin organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, kiprah lebih dari dua dekade di panggung nasional membuat Cak Imin matang secara politik dan layak mengambil peran yang lebih luas di luar ranah politik praktis. Ia bahkan menyarankan agar Cak Imin meninggalkan kontestasi politik dan fokus pada kepemimpinan di organisasi keagamaan.
Cak Imin saat ini adalah Ketua Umum PKB, dan juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Gus Maftuch menilai Cak Imin merupakan figur politik yang sangat matang karena telah berkecimpung di panggung nasional selama lebih dari 27 tahun. Pengalaman panjang itu dianggap sebagai modal besar bagi Cak Imin untuk beralih peran dari politik praktis menuju kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Selain itu dia menilai, Cak Imin sudah mencapai puncak karier politik, sehingga menurut Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya ini menyebut sebaiknya sosok yang diusulkannya itu mulai mengambil peran yang lebih substantif dan reflektif demi kemaslahatan umat.
Gus Maftuch pun menyarankan agar Cak Imin melepaskan diri dari segala bentuk kontestasi politik praktis guna fokus mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
“Gus Muhaimin telah mencapai fase puncak sebagai seorang politisi, sehingga sudah waktunya mengambil peran yang lebih reflektif dan substantif, bukan lagi elektoral, yakni dengan ‘naik pangkat’ menjadi pandito ratu melalui jalan meninggalkan politik praktis dengan kehormatan atas kemenangan dalam dunia politik yang telah beliau dapatkan,” kata dia.
Secara silsilah, Gus Maftuch juga menyebut, Cak Imin punya akar sejarah yang kuat dengan NU. Sebagai cicit dari salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Cak Imin dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan para ulama.
Ia menegaskan, perpindahan peran dari politik ke organisasi keagamaan bukanlah kemunduran, melainkan langkah strategis menuju pengabdian yang lebih luas bagi umat.
Sementara itu, PBNU tengah mempersiapkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Miftachul Akhyar menyebut agenda tersebut direncanakan berlangsung pada awal Agustus, dengan lokasi yang masih dalam pembahasan.
Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, menambahkan bahwa persiapan terus dimatangkan, termasuk pembentukan panitia dan penyusunan kebutuhan teknis pelaksanaan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

