Lima mantan pejabat Amerika Serikat, termasuk seorang mantan penasihat hukum militer senior, mengkritik Pentagon karena belum mengakui kemungkinan keterlibatan AS dalam serangan mematikan terhadap sebuah sekolah di Iran awal tahun ini.
Serangan rudal tersebut menghantam sekolah dasar di Minab pada fase awal perang AS-Israel pada 28 Februari, menewaskan 168 orang, termasuk sekitar 110 anak-anak menurut otoritas Iran. Hingga dua bulan setelah kejadian, Pentagon hanya menyatakan bahwa insiden itu masih dalam tahap penyelidikan.
Sejumlah laporan media AS sebelumnya menyebut penyelidikan awal militer mengindikasikan kemungkinan rudal Amerika secara tidak sengaja menghantam sekolah tersebut, meski belum ada kesimpulan final. Namun, Pentagon belum memberikan konfirmasi lebih lanjut maupun rincian tambahan terkait kasus ini.
Para mantan pejabat menilai sikap tersebut tidak lazim. Mereka menyoroti bahwa dalam kasus-kasus sebelumnya yang melibatkan korban sipil, Pentagon biasanya merilis informasi dasar dalam waktu yang jauh lebih singkat. Menurut mereka, kurangnya transparansi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait akuntabilitas.
Rachel E VanLandingham, mantan penasihat hukum senior di Angkatan Udara AS, mengatakan respons pemerintah kali ini berbeda mencolok dari standar sebelumnya. Ia menilai yang hilang dari pernyataan resmi adalah komitmen terhadap hukum perang serta upaya memastikan insiden serupa tidak terulang.
Presiden Donald Trump sempat menyatakan bahwa Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut, tanpa menyertakan bukti. Dalam kesempatan lain, ia juga mengaku tidak mengetahui laporan yang menyebut rudal AS kemungkinan menjadi penyebab insiden tersebut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menargetkan warga sipil dan memastikan penyelidikan masih berlangsung. Namun, Departemen Pertahanan berulang kali menolak menjawab pertanyaan apakah pangkalan militer di dekat sekolah tersebut merupakan target operasi yang telah direncanakan sebelumnya.
BBC juga menemukan bahwa dalam kasus-kasus serupa di masa lalu, Pentagon biasanya memberikan informasi lebih cepat, bahkan sebelum satu bulan berlalu. Hal ini semakin memperkuat kritik bahwa penanganan kasus Minab kali ini terkesan tidak transparan.
Sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres telah meminta penjelasan resmi dari Pentagon, termasuk soal apakah AS benar-benar bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, balasan yang diberikan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci, dengan alasan penyelidikan masih berlangsung.
Para pengamat menilai, tanpa kejelasan dan keterbukaan, kasus ini berpotensi memperburuk kepercayaan publik terhadap militer AS, sekaligus memicu tekanan politik yang lebih besar terhadap pemerintahan saat ini.
Akbari Danico – Redaksi

