Pemerintah Nigeria memanggil perwakilan diplomatik Afrika Selatan menyusul meningkatnya serangan terhadap warga asing di negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Nigeria menyebut akan menyampaikan “keprihatinan mendalam” dalam pertemuan resmi yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (4/5). Abuja menilai insiden tersebut berpotensi memengaruhi hubungan bilateral antara kedua negara.
Pertemuan itu akan membahas aksi demonstrasi kelompok anti-imigran serta sejumlah kasus perlakuan buruk terhadap warga Nigeria dan serangan terhadap bisnis milik mereka di Afrika Selatan.
Laporan media setempat menyebut sedikitnya dua warga Nigeria dan empat warga Ethiopia tewas dalam gelombang kekerasan terbaru, sementara warga dari negara Afrika lainnya juga menjadi sasaran serangan.
Sebagai negara paling terindustrialisasi di Afrika, South Africa selama ini menjadi tujuan utama migran dari berbagai negara di kawasan yang mencari pekerjaan dan peluang ekonomi.
Presiden Cyril Ramaphosa mengecam aksi kekerasan tersebut, namun juga mengingatkan warga asing untuk mematuhi hukum yang berlaku di negaranya.
Dalam pidatonya pada peringatan Freedom Day, yang menandai pemilu demokratis pertama pada 1994, Ramaphosa menyoroti dukungan negara-negara Afrika lain terhadap perjuangan melawan sistem apartheid.
Meski demikian, sentimen anti-imigran di kalangan sebagian warga Afrika Selatan terus meningkat. Sejumlah kelompok menuduh pendatang asing berada di negara itu secara ilegal, mengambil lapangan kerja, serta terkait dengan aktivitas kriminal seperti perdagangan narkoba.
Kelompok anti-imigran bahkan dilaporkan menghentikan orang-orang di sekitar rumah sakit dan sekolah untuk memeriksa dokumen identitas mereka.
Dalam sebuah aksi di ibu kota Pretoria, pelaku usaha milik warga asing diminta menutup toko mereka demi menghindari potensi kekerasan.
Sementara itu, seorang warga Nigeria yang diwawancarai BBC menyatakan kekecewaannya atas situasi tersebut, menekankan bahwa para migran datang hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Ketegangan serupa juga terjadi sebelumnya ketika Ghana memanggil utusan Afrika Selatan setelah beredarnya video seorang warga Ghana diminta menunjukkan dokumen imigrasi.
Sentimen anti-imigran juga meningkat setelah muncul kontroversi terkait pengangkatan tokoh komunitas Nigeria di salah satu kota pelabuhan sebagai figur tradisional, yang memicu kekhawatiran sebagian warga lokal.
Menurut data resmi, Afrika Selatan menampung sekitar 2,4 juta migran atau hampir 4% dari total populasi, meskipun jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena banyak yang tinggal tanpa dokumen resmi.
Sebagian besar migran berasal dari negara-negara tetangga seperti Lesotho, Zimbabwe, dan Mozambik, sementara sebagian lainnya datang dari Nigeria.
Akbari Danico – Redaksi

