World

Operasi Jan Fadaa Meningkat, Iran Ancam Kapal Perang AS di Hormuz

Ketegangan militer di Selat Hormuz dilaporkan mencapai titik kritis setelah muncul klaim serangan terhadap kapal perang Amerika Serikat. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam menyebut kapal tersebut terkena dua rudal usai mengabaikan peringatan di dekat pelabuhan Jask, Iran. Namun, militer Amerika Serikat membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada kapal mereka yang terdampak serangan.

Perbedaan narasi ini mencerminkan eskalasi perang informasi yang semakin memperkeruh situasi di kawasan strategis tersebut.

Mayor Jenderal, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa Iran memiliki kendali penuh atas keamanan Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons terhadap rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang disebut ingin mengerahkan kekuatan militer untuk mengamankan pelayaran.

Di sisi diplomatik, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa negaranya menolak membuka ruang negosiasi selama tekanan militer dan blokade ekonomi masih berlangsung. Sikap ini menunjukkan posisi keras Teheran yang mempersempit peluang deeskalasi dalam waktu dekat. Di dalam negeri, Iran meluncurkan kampanye mobilisasi besar bertajuk Jan Fadaa atau Siap Berkorban Nyawa untuk menggalang dukungan publik.

Pemerintah mengklaim lebih dari 31 juta sukarelawan telah mendaftar melalui sistem sederhana berbasis nomor telepon. Dukungan tersebut disebut mencakup sebagian besar populasi dewasa dan diperkuat oleh pernyataan Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei, yang menilai gerakan ini sebagai elemen penting dalam menghadapi tekanan eksternal. Mobilisasi ini mencerminkan upaya negara untuk memperkuat legitimasi domestik di tengah ancaman konflik berkepanjangan.

Meski demikian, klaim keberhasilan kampanye tersebut menuai keraguan dari kelompok oposisi dan pengamat di luar negeri. Mereka mempertanyakan validitas angka partisipasi, terutama setelah gelombang protes nasional yang sebelumnya terjadi di Iran.

Pemerintah melalui juru bicara, Sasan Zare, menyatakan bahwa mayoritas peserta berasal dari kalangan perempuan dan generasi muda. Di tengah kebuntuan diplomatik dan meningkatnya ketegangan militer, para analis memperingatkan bahwa kawasan ini berada di ambang konflik besar yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...