Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan tujuh langkah strategis yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kebijakan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (5/5).
Menurut Perry, langkah-langkah tersebut telah mendapat dukungan penuh dari Presiden sebagai bagian dari upaya memperkuat rupiah ke depan.
Langkah pertama adalah intervensi berkelanjutan di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun transaksi derivatif seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), di dalam dan luar negeri. BI menilai cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar USD 148,2 miliar pada akhir Maret masih cukup kuat untuk menopang kebijakan ini.
Kedua, BI bersama pemerintah akan mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik kembali aliran modal asing dan meningkatkan permintaan terhadap rupiah.
Ketiga, BI juga memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Hingga saat ini, pembelian SBN telah mencapai Rp123,1 triliun secara year-to-date.
Keempat, BI memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga serta mempertahankan pertumbuhan uang primer (M0) pada level tinggi, yang saat ini tercatat tumbuh 14,1 persen secara tahunan.
Kelima, kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tunai diperketat, dari sebelumnya USD 100 ribu menjadi USD 50 ribu per orang per bulan. Bahkan, untuk transaksi di atas USD 25 ribu, BI tengah menyiapkan aturan yang mewajibkan adanya underlying transaksi.
Keenam, BI akan memperkuat pasar offshore non-deliverable forward (NDF) guna mengendalikan nilai tukar di pasar luar negeri, termasuk membuka ruang bagi bank domestik untuk bertransaksi NDF di luar negeri.
Ketujuh, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar AS oleh perbankan dan korporasi melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Akbari Danico – Redaksi

