World

Putin Gunakan Pidato Hari Kemenangan untuk Bela Perang Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan pidato Hari Kemenangan pada (9/5) di Lapangan Merah, Moskow, untuk membenarkan perang di Ukraina sekaligus mengecam NATO.

Di hadapan ratusan personel militer dan sejumlah pemimpin dunia, Putin menyebut konflik tersebut sebagai “perang yang adil” dan menuduh Ukraina sebagai kekuatan agresif yang didukung penuh oleh NATO.

Pidato ini disampaikan di tengah perayaan Victory Day yang berlangsung lebih terbatas di berbagai wilayah Rusia, memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Menjelang peringatan tersebut, Rusia dan Ukraina sempat menyepakati gencatan senjata selama tiga hari yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Namun setelah parade, Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina melanggar kesepakatan tersebut, sementara Kyiv belum memberikan tanggapan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, parade di Moskow tidak menampilkan kendaraan lapis baja atau rudal balistik. Meski demikian, pasukan militer tetap berbaris dalam jumlah besar di bawah pengamanan ketat.

Dalam pidatonya, Putin juga mengenang pengorbanan tentara Uni Soviet selama Perang Dunia II dan mengaitkannya dengan operasi militer Rusia saat ini di Ukraina.

Ia turut menyoroti kontribusi warga sipil mulai dari ilmuwan hingga tenaga medis—dalam mendukung upaya perang Rusia.

Sejumlah tamu asing hadir dalam acara tersebut, termasuk Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Raja Malaysia Sultan Ibrahim, serta Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico juga terlihat menghadiri acara, menjadi satu-satunya perwakilan dari Uni Eropa.

Namun, jumlah pemimpin dunia yang hadir lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya, mencerminkan dinamika geopolitik yang terus berubah sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Di berbagai kota lain seperti Vladivostok, Krasnoyarsk, dan St Petersburg, perayaan tetap digelar meski dalam skala lebih kecil, sementara beberapa acara lainnya dibatalkan atau dialihkan secara virtual.

Di bawah kepemimpinan Putin, Hari Kemenangan tidak hanya menjadi momen mengenang sejarah, tetapi juga digunakan untuk menunjukkan kekuatan militer Rusia, meskipun tahun ini perayaan dikurangi dengan alasan situasi operasional dan keamanan.

Seorang anggota parlemen Rusia, Yevgeny Popov, bahkan menyatakan bahwa tank-tank Rusia saat ini lebih dibutuhkan di medan perang dibandingkan untuk ditampilkan dalam parade.

Langkah pengurangan skala acara juga dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap ancaman serangan drone Ukraina.

Meski gencatan senjata sempat berlangsung selama parade, kedua pihak kembali saling menuduh melakukan pelanggaran di medan perang setelahnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari penyelesaian, dengan ketegangan yang terus berlanjut meski ada upaya penghentian sementara pertempuran.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...