Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar), Ni Luh Puspa, mengapresiasi peresmian Museum Marsinah oleh Presiden Prabowo Subianto di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang diyakini mampu memperkuat daya tarik Desa Wisata Nglundo sebagai desa wisata berbasis sejarah dan budaya.
Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar memulai agenda dengan meninjau Monumen Marsinah yang berada di jalur provinsi Surabaya–Madiun. Didampingi Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo, Wamenpar kemudian melanjutkan peninjauan menuju Museum Marsinah.
“Kehadiran Museum Marsinah bukan hanya menjadi ruang pembelajaran sejarah, tetapi juga dapat memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya dan edukasi di Desa Wisata Nglundo,” kata Wamenpar saat melakukan kunjungan ke Desa Wisata Nglundo, Sabtu (16/5/2026).
Sebelum memasuki area museum, Wamenpar terlebih dahulu mengunjungi rumah keluarga Marsinah yang menjadi tempat kelahiran dan masa tumbuh tokoh buruh perempuan kelahiran 10 April 1969 tersebut.
Di rumah itu, Wamenpar melihat kamar tidur, ruang utama, serta berbagai dokumentasi perjalanan hidup Marsinah yang dipajang dalam bingkai besar dan deretan penghargaan dari berbagai pihak.
Sementara di kompleks museum yang berada berdampingan dengan rumah keluarga, Wamenpar meninjau sejumlah koleksi pribadi Marsinah yang tersimpan dan dipamerkan kepada publik. Koleksi tersebut antara lain sepeda onthel yang pernah digunakan Marsinah, seragam pabrik, tas, dompet, ijazah sekolah, hingga berbagai catatan perjuangan yang disajikan secara informatif dan edukatif.
“Kehadiran museum ini akan menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberi nilai pembelajaran bagi masyarakat,” ujar Ni Luh Puspa.
Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nglundo, Eko Fitri Puji Harto, menyampaikan harapannya agar penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional dapat semakin meningkatkan daya tarik Desa Wisata Nglundo sebagai destinasi wisata sejarah unggulan di Jawa Timur.
Sebagai desa wisata rintisan, Eko mengakui pihaknya masih membutuhkan pendampingan dalam pengembangan paket wisata, peningkatan kualitas pelayanan, keamanan, hingga kenyamanan wisatawan.
Eko menambahkan, pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dalam mendukung promosi, pemasaran, serta distribusi produk desa. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan suvenir, produk kreatif, hingga paket wisata berbasis sejarah dan budaya lokal.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

