Hubungan antara China dan Rusia kerap dinilai unik dalam dinamika geopolitik global. Meski di beberapa kesempatan tampak memiliki perbedaan kepentingan, kedua negara tetap mempertahankan kedekatan strategis yang selama ini menjadi fondasi hubungan bilateral mereka.
Pengamat hubungan internasional sekaligus mantan wakil kepala misi Kedutaan Besar Australia di Moskow, Bobo Lo, menyebut hubungan kedua negara bukanlah aliansi formal seperti yang dimiliki negara-negara Barat.
Menurutnya, kerja sama antara Moskow dan Beijing lebih tepat disebut sebagai “kemitraan strategis yang fleksibel”, di mana masing-masing negara tetap memiliki kebebasan untuk menentukan kepentingannya sendiri tanpa harus sepenuhnya mengikuti pihak lain.
Model hubungan tersebut dinilai menjadi salah satu alasan mengapa kemitraan Rusia dan China mampu bertahan, meskipun berkali-kali diprediksi akan mengalami keretakan.
Berbeda dengan negara-negara Barat yang kerap menjatuhkan sanksi atau tekanan diplomatik berdasarkan isu nilai dan hak asasi manusia, Rusia dan China cenderung tidak memberikan penilaian terbuka terhadap kebijakan domestik masing-masing.
Dalam beberapa tahun terakhir, China menghadapi berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dalam skala besar di wilayah Xinjiang, tuduhan yang terus dibantah oleh pemerintah Beijing. Di sisi lain, kematian tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, juga meningkatkan kekhawatiran sejumlah negara Barat terhadap Moskow.
Meski isu-isu tersebut memicu sikap lebih hati-hati dari negara-negara Barat dalam menjalin hubungan dengan Rusia maupun China, kedua negara tetap mempertahankan pendekatan saling mendukung dan mengabaikan kritik terhadap urusan domestik masing-masing.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Beijing dan Moskow terus memperkuat hubungan strategis mereka di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan perubahan dinamika tatanan internasional.
Akbari Danico – Redaksi

