Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendukung RW 07 Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Saat meninjau kawasan tersebut, Pramono mengapresiasi konsistensi warga yang sejak 2017 membangun sistem pengelolaan sampah mandiri dan terintegrasi. Menurutnya, RW 07 Joglo telah memiliki ekosistem lengkap yang mencakup Bank Sampah Siwali, Rumah Kompos, Rumah Eco Enzyme, Rumah Maggot, hingga Kebun Sayur Sehat yang saling mendukung dalam pengolahan sampah.
Pramono menilai praktik yang diterapkan di RW 07 Joglo sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mendorong pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya. Sejak 1 Juni 2026, wilayah tersebut telah menerapkan sistem pengangkutan sampah terpilah, dengan jadwal berbeda untuk sampah organik, residu, anorganik, dan minyak jelantah. Kebijakan ini dinilai efektif dalam mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir.
Hasilnya, Bank Sampah Siwali kini mampu menyerap lebih dari satu ton sampah anorganik setiap pekan. Selain itu, warga juga mengumpulkan sekitar 400 kilogram sampah organik setiap hari atau sekitar 12 ton per bulan. Sebagian besar sampah organik tersebut diolah menjadi kompos, eco enzyme, dan pakan maggot, sehingga mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Pengelolaan sampah di RW 07 Joglo juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat setempat. Rumah Kompos menghasilkan ratusan ember kompos setiap bulan, sementara Rumah Eco Enzyme memproduksi sekitar 200 liter eco enzyme per minggu. Budidaya maggot dan Kebun Sayur Sehat turut menghasilkan produk yang bernilai guna bagi warga. Pramono menegaskan bahwa keberhasilan RW 07 Joglo membuktikan pengelolaan sampah dari sumber dapat berjalan efektif dengan dukungan partisipasi masyarakat, sehingga model serupa akan terus didorong untuk diterapkan di wilayah lain di Jakarta.
Alexander Jason – Redaksi

