UEFA dipastikan tidak akan menerapkan aturan jeda minum atau hydration break secara rutin pada Euro 2028 seperti yang terjadi di Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diambil setelah aturan tersebut menuai berbagai perdebatan selama turnamen yang berlangsung di Amerika Utara.
Menurut laporan Telegraph Football, hydration break hanya akan diberlakukan dalam kondisi cuaca yang benar-benar ekstrem. UEFA menetapkan bahwa jeda minum baru dapat digunakan apabila suhu di stadion mencapai 35 derajat Celsius atau lebih saat pertandingan berlangsung.
Berbeda dengan Piala Dunia 2026 yang beberapa kali menerapkan jeda minum karena tingginya suhu dan kelembapan, UEFA memilih pendekatan yang lebih ketat. Keputusan untuk mengaktifkan hydration break nantinya tidak bersifat otomatis, melainkan akan ditentukan oleh match delegate setelah melakukan pengukuran suhu langsung di lapangan.
Aturan tersebut dibuat untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan pemain dan kelancaran jalannya pertandingan. UEFA menilai jeda minum memang penting dalam kondisi tertentu, tetapi tidak perlu menjadi bagian wajib dari setiap laga apabila cuaca masih berada dalam batas normal.
Dilansir dari Telegraph Football, kebijakan ini juga menjadi respons terhadap kritik yang muncul selama Piala Dunia 2026. Sejumlah pihak menilai terlalu banyak penghentian pertandingan dapat memengaruhi ritme permainan, meski tujuan utamanya tetap untuk melindungi kesehatan para pemain.
Dengan Euro 2028 yang akan digelar di Britania Raya dan Irlandia, kondisi cuaca diperkirakan tidak akan se-ekstrem beberapa lokasi penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Namun, UEFA tetap menyiapkan protokol khusus apabila suhu melonjak ke level yang berpotensi membahayakan pemain selama pertandingan berlangsung.
Akbari Danico – Redaksi

