Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyatakan bahwa Sekolah Rakyat hadir untuk memberi peluang setara dalam mengakses pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Gus Ipul mengatakan, Anak-anak yang selama ini mungkin mengubur mimpinya, sekarang mulai lebih percaya diri, lebih optimistis, dan berani meraih cita-citanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga mempertemukan calon siswa dengan siswa Sekolah Rakyat yang telah menjalani pembelajaran selama satu tahun sejak awal Sekolah Rakyat rintisan pada Juli 2025.
“Anak-anak yang tampil di depan tadi adalah anak-anak yang dijangkau melalui data yang dimiliki pemerintah. Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, tetapi negara yang menjangkau keluarga-keluarga yang selama ini mungkin belum terlihat dalam proses pembangunan,” katanya.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi keluarga yang berada pada desil 1 dan 2 atau kelompok masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi paling bawah seperti yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Setelah satu tahun menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat, Gus Ipul menilai para siswa mulai menunjukkan perubahan, mulai peningkatan rasa percaya diri hingga keberanian untuk kembali menggantungkan cita-cita.
Salah satu siswa yang mengalami perubahan tersebut adalah Novatul Alratia (14) dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat yang mengaku awalnya pemalu dan kurang percaya diri. Setelah jadi siswi SRMP 18 Lombok Barat, ia menorehkan prestasi sebagai juara pertama pencak silat tingkat nasional.
Kini, Novatul mantap ingin menjadi polisi wanita. Sang ibu mengaku, kini putrinya jadi lebih disiplin, percaya diri, serta sering membantu pekerjaan di rumah. Menurutnya, Novatul pernah kehilangan rasa percaya diri setelah ekonomi keluarganya terdampak pandemi.
Sementara, Haikal Abdul Majid (14), siswa SRMP 18 Lombok Barat menyebut bercita-cita menjadi psikolog. Haikal yang tinggal bersama bibinya setelah terjadi masalah keluarga, mengaku senang dapat menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Saya merasa senang karena bisa banyak teman, guru-gurunya baik kepada saya, dan bisa makan gratis di sini,” ujar Haikal.
Bibi Haikal menyatakan, keponakannya mengalami perubahan khususnya dalam hal kedisiplinan dan kepercayaan dirinya. Sejak menimba ilmu di Sekolah Rakyat, Haikal bahkan berani menjadi imam di sekolah.
Lebih lanjut, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan salah satu bentuk perhatian Presiden Prabowo Subianto kepada keluarga miskin dan miskin ekstrem agar anak-anak memperoleh pendidikan yang layak, berkualitas, dan berasrama selama 24 jam.
Ia berharap, Sekolah Rakyat dapat melahirkan generasi yang tangguh, berkarakter, memiliki keterampilan, serta menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.
“Orang tua kalian bisa jadi pemulung, buruh serabutan, atau pekerja bangunan, tetapi tetap harus dihormati. Mudah-mudahan dari Sekolah Rakyat ini lahir dokter, guru, psikolog, polisi, pilot, bahkan Presiden Republik Indonesia di masa depan,” pungkasnya.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

