Pemerintah memulai pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya, di Bali. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari, mengatakan proyek ini menjadi wujud transformasi pembangunan lingkungan. Ia menegaskan, Presiden RI Prabowo Subianto telah mengingatkan bahwa persoalan sampah adalah permasalahan bersama dan harus diselesaikan sesegera mungkin.
“Proyek ini bagian dari upaya menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan terhadap persoalan sampah, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan,” ujar Qodari, Senin (13/7).
Presiden mengatakan penanganan sampah tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Kondisi kedaruratan ini sudah terlihat jelas di Pulau Bali, khususnya pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung.
“Jika kita tetap membiarkan sampah menumpuk tanpa pengelolaan yang terpadu, maka pada 2028 tempat-tempat penampungan sampah kita akan lumpuh total karena kelebihan kapasitas,” kata Qodari.
Dari total timbulan sampah gabungan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang mencapai sekitar 1.600 ton per hari, lebih dari 72 persen di antaranya masih dibuang langsung ke TPA.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Danantara Indonesia mengambil langkah nyata melalui peletakan batu pertama pembangunan fasilitas PSEL Denpasar Raya pada 8 Juli 2026. Langkah ini menjadi implementasi perdana dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Fasilitas modern yang memiliki nilai investasi Rp 3 triliun ini ditargetkan beroperasi pada akhir 2027. PSEL ini dirancang untuk mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari dan menggunakan teknologi moving grate incinerator, yakni mengaduk dan mendorong sampah secara otomatis melintasi ruang bakar bersuhu tinggi.
Sistem ini sangat efisien mereduksi volume sampah 80 sampai 90 persen, sekaligus mengubahnya menjadi energi listrik. Sementara itu, sisa timbulan sampah akan ditangani secara menyeluruh melalui pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle dari sumbernya.
Lewat teknologi ramah lingkungan ini, sampah diubah menjadi sumber daya yang membawa berkah, memiliki nilai ekonomi, dan bermanfaat langsung bagi hajat hidup orang banyak.
Fasilitas di Bali ini akan menjadi pelopor dan tolok ukur bagi wilayah lain di Indonesia. Ke depannya, PSEL diproyeksikan akan hadir di 34 kawasan aglomerasi untuk menyelesaikan persoalan sampah di 60 hingga 70 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Qodari berharap kebijakan ini membawa manfaat ganda yang luar biasa. Di satu sisi, membersihkan lingkungan, mengurangi tumpukan sampah yang mengancam kesehatan warga, serta berkontribusi menekan emisi gas rumah kaca.
Di sisi lain, sampah yang diolah ini akan menyumbang pasokan energi bersih yang memperkuat ketahanan energi domestik secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil.
Lebih dari itu, proyek ini akan menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Kehadiran PSEL di Denpasar Raya akan menyerap sekitar 1.200 lapangan kerja hijau atau green jobs, mengundang investasi teknologi hijau, dan menciptakan ekosistem perputaran ekonomi yang sehat.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

