World

Presiden Trump Tuduh China Retas 220 Juta Data Pemilih pada Pemilu AS 2020

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan tuduhan bahwa China ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020 yang dimenangkan oleh Joe Biden. Dalam pidatonya, Trump mengaku membuka dokumen intelijen yang disebut berisi informasi mengenai dugaan keterlibatan China dalam memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika Serikat secara ilegal.

Menurutnya, data tersebut mencakup nama, alamat, dan informasi lain yang berkaitan dengan pendaftaran pemilih. Pernyataan itu kembali memunculkan perdebatan mengenai keamanan pemilu serta tuduhan yang telah berulang kali disampaikan Trump sejak kekalahannya pada 2020.

Namun, tuduhan tersebut bertentangan dengan penilaian resmi komunitas intelijen Amerika Serikat yang diterbitkan pada 2021. Laporan tersebut menyimpulkan tidak ada bukti bahwa aktor asing berhasil mengubah aspek teknis penyelenggaraan pemilu, termasuk sistem pendaftaran pemilih, surat suara, proses penghitungan, maupun hasil pemungutan suara.

Penilaian itu dilakukan ketika komunitas intelijen dipimpin oleh John Ratcliffe, yang kini menjabat sebagai Direktur Central Intelligence Agency (CIA). Meskipun laporan tersebut mengakui China berupaya mengumpulkan informasi mengenai pemilih dan dinamika politik Amerika Serikat, tidak ditemukan bukti bahwa aktivitas tersebut digunakan untuk memanipulasi hasil pemilu.

Sejumlah sumber juga menyatakan bahwa data pemilih yang diperoleh China bukan merupakan informasi rahasia, melainkan data yang secara umum dapat diakses dan lazim digunakan oleh konsultan politik untuk keperluan analisis. Menjelang pidato Trump, beberapa pejabat Gedung Putih dilaporkan telah menyampaikan kekhawatiran bahwa penyampaian informasi mengenai China berpotensi menyesatkan publik dan memengaruhi hubungan dagang yang mulai membaik.

Kedutaan Besar China di Amerika Serikat membantah seluruh tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa Beijing tidak pernah ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Senator Partai Demokrat, Mark Warner juga menegaskan bahwa badan intelijen Amerika Serikat tidak menemukan bukti adanya upaya China untuk mengubah hasil pemungutan suara.

Selama bertahun-tahun, Trump terus mempertanyakan hasil pemilihan presiden 2020 dan berulang kali menyatakan bahwa kekalahannya dari Joe Biden terjadi akibat kecurangan. Namun hingga kini, berbagai tuduhan tersebut belum disertai bukti yang menunjukkan adanya manipulasi terhadap hasil pemilu.

Perbedaan antara klaim politik dan temuan resmi lembaga intelijen kembali menjadi sorotan dalam dinamika politik Amerika Serikat. Perdebatan mengenai integritas pemilu diperkirakan akan terus berlanjut karena isu tersebut masih menjadi salah satu tema utama dalam persaingan politik menjelang pemilihan berikutnya.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...