Industri perasuransian Indonesia memasuki fase baru di tengah meningkatnya tekanan ekonomi makro, dengan profitabilitas yang kini dinilai lebih bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola risiko dibandingkan sekadar meningkatkan premi.
Berdasarkan laporan IFG Progress, industri asuransi jiwa masih mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan laba bersih naik 44,5 persen secara tahunan menjadi Rp7,7 triliun. Peningkatan tersebut didorong oleh efisiensi beban operasional serta pengelolaan klaim yang lebih baik.
Senior Research Associate IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman, menilai keberlanjutan kinerja industri akan bergantung pada penguatan bisnis inti, khususnya melalui peningkatan kualitas underwriting.
Pada sektor asuransi umum, industri masih mampu mempertahankan kinerja yang relatif solid meskipun mulai menghadapi tekanan akibat meningkatnya klaim di sejumlah lini usaha. Pendapatan underwriting tetap stabil di tengah pertumbuhan premi yang moderat berkat efisiensi biaya dan penerapan selektivitas risiko.
Meski demikian, kenaikan klaim bruto dan penurunan hasil investasi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Laporan tersebut merekomendasikan perusahaan memperkuat strategi seleksi risiko, penetapan tarif premi, pengelolaan reasuransi, serta disiplin pengendalian klaim, terutama pada lini usaha yang memiliki loss ratio di atas 100 persen.
Memasuki semester kedua 2026, IFG Progress memperkirakan tantangan industri akan semakin besar seiring perubahan kondisi ekonomi global dan domestik.
Ibrahim menjelaskan, tekanan eksternal tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mulai memengaruhi permintaan domestik, stabilitas sektor eksternal, serta arah kebijakan moneter. Menurut organisasinya, kemampuan mengelola risiko akan menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan profitabilitas perusahaan asuransi. Pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan cadangan devisa juga diperkirakan meningkatkan biaya reasuransi luar negeri serta biaya penggantian aset impor.
Selain tekanan nilai tukar, kenaikan inflasi diproyeksikan turut meningkatkan biaya layanan kesehatan, material konstruksi, dan suku cadang kendaraan yang menjadi komponen utama berbagai lini bisnis asuransi. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap sektor engineering, marine cargo, properti, dan kendaraan bermotor.
IFG Progress menilai perusahaan perlu terus memperkuat kualitas portofolio, menjaga disiplin underwriting, serta meningkatkan manajemen risiko agar mampu menghadapi ketidakpastian ekonomi. Strategi tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan industri perasuransian secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks.
Alexander Jason – Redaksi

