World

Iran Diklaim Serang Fasilitas Listrik Kuwait, Kebakaran Picu Gangguan Operasional

Sebuah pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Kuwait kembali menjadi sasaran serangan pada Minggu (19/7/2026), memicu kebakaran serta mengganggu operasional sejumlah unit pembangkit. Pemerintah Kuwait menyatakan insiden tersebut merupakan serangan kedua dalam dua hari terakhir terhadap infrastruktur kelistrikan negara itu.

Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait segera mengaktifkan rencana tanggap darurat untuk mengurangi dampak gangguan terhadap pasokan listrik dan air. Hingga kini, pemerintah belum merinci tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban akibat serangan tersebut.

Sehari sebelumnya, otoritas Kuwait juga melaporkan serangan serupa yang menyasar fasilitas kelistrikan. Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan pesawat nirawak berskala besar terhadap dua instalasi militer Amerika Serikat di Kuwait.

Menurut media pemerintah Iran, IRIB, serangan tersebut menargetkan gudang amunisi di Camp Al Adiri, serta sistem pertahanan rudal Patriot dan instalasi radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Amerika Serikat maupun pemerintah Kuwait.

Peristiwa ini memperlihatkan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat lebih dulu melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Sebagai balasan, Teheran mengaku menyerang berbagai fasilitas dan pangkalan yang disebut digunakan oleh militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan.

Rangkaian aksi saling serang tersebut memperluas ketegangan regional dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Teluk. Infrastruktur sipil dan fasilitas strategis kini turut terdampak oleh konflik yang terus berkembang.

Konflik terbaru ini terjadi meskipun Washington dan Teheran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni 2026 sebagai langkah awal menuju penghentian konflik. Kesepakatan tersebut semula diharapkan menjadi dasar bagi perundingan damai yang lebih permanen antara kedua negara.

Namun, serangan balasan yang terus berlangsung menunjukkan upaya diplomatik tersebut belum berhasil meredakan ketegangan. Situasi di Timur Tengah pun masih dipenuhi ketidakpastian dengan potensi eskalasi yang tetap tinggi.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...