Badan Gizi Nasional (BGN) optimistis kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 dapat ditekan jauh di bawah proyeksi awal sebesar Rp268 triliun. Optimisme tersebut muncul seiring upaya pemerintah mempertajam efisiensi dan memperbaiki tata kelola pelaksanaan program.
Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa pihaknya diberi tenggat waktu satu bulan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mempertajam kembali efisiensi dan tata kelola program prioritas tersebut. Proses penajaman anggaran (refocusing) saat ini tengah berjalan intensif.
Menurut Agustina, proses efisiensi saat ini difokuskan pada penyempurnaan data penerima manfaat yang mencapai sekitar 63,626 juta orang di seluruh Indonesia. Selain itu, BGN juga mengevaluasi sistem distribusi agar pelaksanaan program menjadi lebih efektif dan efisien.
BGN meyakini pembaruan data penerima dan perbaikan rute distribusi dapat menghilangkan biaya operasional yang tidak diperlukan, sehingga anggaran program dapat dioptimalkan. BGN memastikan pembenahan tata kelola tuntas dalam waktu satu bulan sesuai instruksi Presiden sebelum mengumumkan angka final ke publik.
Pemerintah menargetkan seluruh pembenahan tata kelola tersebut rampung dalam waktu satu bulan sesuai arahan Presiden. Setelah proses selesai, BGN akan mengumumkan besaran anggaran final Program MBG 2026 kepada publik.
Rencana efisiensi anggaran ini juga mendapat dukungan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, usulan penghematan berasal dari internal BGN setelah dilakukan pembahasan bersama Kepala BGN, Nanik S. Deyang.
Pemerintah menegaskan bahwa langkah efisiensi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran negara, tanpa mengurangi manfaat Program Makan Bergizi Gratis bagi masyarakat.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

