Pemerintah Amerika Serikat selangkah lebih dekat mengesahkan tambahan anggaran senilai US$95 miliar atau sekitar Rp1,7 kuadriliun setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dikuasai Partai Republik menyetujui rancangan tersebut melalui pemungutan suara tipis 216 berbanding 214.
Anggaran itu ditujukan untuk membiayai perang melawan Iran, memberikan bantuan kepada petani, serta mendukung sebagian agenda kebijakan pemilu Presiden AS Donald Trump. Meski telah lolos di DPR, rancangan anggaran tersebut masih harus melalui pembahasan di Senat dengan peluang persetujuan yang belum pasti.
Seluruh anggota Partai Demokrat menolak proposal tersebut, disertai penolakan dari dua anggota Partai Republik, Thomas Massie dan Warren Davidson, serta anggota independen Kevin Kiley yang berkoalisi dengan Partai Republik.
Sejumlah senator Partai Republik juga mempertanyakan besarnya tambahan dana untuk perang melawan Iran dan mengkritik dimasukkannya ketentuan terkait pemilu ke dalam mekanisme rekonsiliasi anggaran. Perdebatan tersebut diperkirakan akan menjadi tantangan utama saat pembahasan berlanjut di Senat.
Permintaan tambahan anggaran diajukan oleh pemerintahan Donald Trump pada Juni 2026 ketika konflik dengan Iran memasuki bulan kelima. Pemerintah beralasan tambahan dana diperlukan untuk mendukung operasi militer yang terus berlangsung sekaligus membiayai program domestik lainnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempertahankan pendanaan di tengah konflik yang berkepanjangan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperkirakan perang melawan Iran telah menghabiskan sekitar US$37,5 miliar atau setara Rp671,3 triliun hingga saat ini. Besarnya biaya perang memicu perdebatan mengenai dampak fiskal dan prioritas belanja pemerintah di tengah meningkatnya tekanan terhadap anggaran federal. Keputusan akhir kini berada di tangan Senat yang akan menentukan apakah tambahan anggaran tersebut dapat diberlakukan.
Alexander Jason – Redaksi

