Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan baru mengenai meningkatnya aktivitas kelompok peretas yang diduga didukung Iran dan menargetkan sistem kontrol industri yang mengoperasikan layanan vital. Peringatan bersama yang diterbitkan FBI, National Security Agency (NSA), Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), serta Departemen Energi AS menyebut serangan tersebut menyasar sektor penyediaan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, energi, hingga fasilitas pemerintahan.
Para pelaku dilaporkan berupaya mengganggu sistem yang mengendalikan proses fisik di lapangan, sehingga ancamannya dinilai lebih serius dibandingkan serangan siber yang hanya menargetkan pencurian data. Pemerintah AS menyebut aktivitas ini telah berlangsung sedikitnya sejak Maret 2026.
Menurut CISA, kelompok peretas berfokus menyerang programmable logic controller (PLC) yang terhubung langsung ke internet, yakni perangkat yang mengendalikan proses otomatis di berbagai fasilitas industri. Para pelaku memanfaatkan kelemahan dasar seperti kata sandi yang lemah, perangkat yang terbuka ke internet, kredensial yang bocor, dan fitur rekayasa resmi milik vendor, bukan mengeksploitasi celah keamanan baru.
Setelah memperoleh akses, mereka mengubah logika pengendalian PLC serta memodifikasi tampilan pada sistem Human Machine Interface (HMI) dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), sehingga operator menerima informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Dalam beberapa kasus, perubahan tersebut menyebabkan sistem alarm dan mekanisme penghentian darurat tidak berfungsi, bahkan memaksa operator menjalankan sistem secara manual serta memicu peringatan air harus direbus di sejumlah wilayah.
Hasil investigasi terbaru menunjukkan cakupan serangan kini semakin luas. Selain perangkat Rockwell Automation, kelompok peretas juga dilaporkan menargetkan PLC buatan Schneider Electric dan Siemens dengan menggunakan server luar negeri serta perangkat lunak rekayasa resmi untuk memperoleh akses ke jaringan industri.
Metode tersebut memiliki kemiripan dengan operasi CyberAv3ngers yang oleh Pemerintah AS dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sementara kelompok Handala juga menjadi perhatian karena mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap perusahaan teknologi medis, layanan pembayaran digital, dan penyedia air.
Meski demikian, pemerintah AS masih terus menyelidiki beberapa insiden terbaru, termasuk serangan terhadap lebih dari 30 sistem penyedia air di Minnesota, sehingga belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab secara resmi.
Menanggapi meningkatnya ancaman tersebut, CISA meminta seluruh operator infrastruktur penting segera memperkuat sistem keamanan dengan memutus akses langsung PLC ke internet apabila tidak diperlukan, menerapkan autentikasi multifaktor, mengganti kata sandi bawaan, memperbarui perangkat lunak, serta memverifikasi konfigurasi sistem secara berkala. Operator juga diminta menyimpan cadangan sistem secara offline, memantau aktivitas jaringan, dan segera mengaktifkan prosedur tanggap insiden apabila ditemukan indikasi kompromi.
Pemerintah Amerika Serikat menilai ancaman terhadap infrastruktur penting akan terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas kelompok peretas yang didukung negara. Karena sistem kontrol industri berhubungan langsung dengan layanan publik, penguatan keamanan siber dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kelangsungan distribusi air, energi, dan layanan vital lainnya.
Alexander Jason – Redaksi

